Tak Peduli Inflasi AS Panas, Bitcoin-Ethereum Dkk Hijau

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga kripto berkapitalisasi pasar besar (big cap) terpantau cerah bergairah pada perdagangan Kamis (13/1/2022) pagi waktu Indonesia, menunjukkan bahwa tren pemulihan mulai terbentuk setelah sempat terkoreksi selama beberapa hari.

Melansir data dari CoinMarketCap per pukul 09:10 WIB, hampir seluruh kripto big cap berhasil pulih dari zona koreksi, kecuali dua kripto berjenis stablecoin yakni Tether dan USD Coin.

Bitcoin melesat 2,08% ke level harga US$ 43.592,72/koin atau setara dengan Rp 623.375.896/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.300/US$), Ethereum melonjak 3,19% ke level US$ 3.339,95/koin atau Rp 47.761.285/koin.

Berikutnya Solana melompat 6,48% ke US$ 149,56/koin (Rp 2.138.708/koin), Cardano meroket 10,58% ke US$ 1,33/koin (Rp 19,019/koin), dan Terra terbang 8,95% ke US$ 79,82/koin (Rp 1.141.426/koin).

Berikut pergerakan 10 kripto besar berdasarkan kapitalisasi pasarnya pada hari ini.




Kripto

Bitcoin mulai merangkak naik, di mana pada hari ini kripto dengan kapitalisasi pasar sebesar US$ 826 miliar tersebut kini diperdagangkan di kisaran level US$ 43.000.

Positifnya kembali pasar kripto pada hari ini terjadi setelah rilisnya data inflasi Amerika Serikat (AS) dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) periode Desember 2021, di mana IHK Negeri Paman Sam tersebut tercatat tumbuh 7% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menjadi level tertinggi sejak 1982.

Meskipun inflasi berada di level tertingginya dalam 4 dekade terakhir, tetapi kenaikan ini sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.

Ekonom yang disurvei Dow Jones sudah memperkirakan bahwa IHK AS bulan Desember 2021 bakal naik 7% sesuai dengan angka aktual saat ini.

Sehari sebelumnya, ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell hadir untuk memberikan testimoni dan menyampaikan arah kebijakan moneter AS ke depan di depan Senat Perbankan.

Dalam kesempatan tersebut, Powell menegaskan bahwa otoritas moneter akan mengambil langkah pengetatan berupa penghentian program pembelian obligasi (tapering) serta menaikkan suku bunga acuan.

Lagi-lagi, pidato Powell yang mengindikasikan arah kebijakan The Fed juga sudah diantisipasi oleh pelaku pasar sehingga tidak ada kejutan yang membuat pasar tertekan.

Bitcoin dipandang oleh sebagian besar investor di kripto sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi. Namun ada beberapa pula bahwa Bitcoin masih belum bisa dianggap sebagai aset hedging dari inflasi.

“Reaksi pasar terhadap data inflasi terbaru mungkin sedikit membingungkan, tetapi kali ini, investor tampaknya jauh lebih santai menanggapi potensi sikap hawkish The Fed.” Kata Mati Greenspan, founder perusahaan analisis cryptocurrency dan valuta asing Quantum Economics, dikutip dari CoinDesk.

Di lain sisi, beberapa analis mempertahankan pandangannya yang bullish di Bitcoin dalam jangka panjang. Meski beberapa analis dan investor cenderung optimis, tetapi volatilitas masih akan terjadi dalam beberapa hari kedepan.

“Pasar kripto diprediksi masih akan volatil dalam beberapa bulan ke depan, meski investor sedang bersikap optimis karena mereka menavigasi era baru inflasi,” kata Lennard Neo, kepala penelitian di Stack Funds, dilansir dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)





Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore