Pak Anies, BOR DKI Sudah 11%! Bisa Ganggu Ekonomi Nih…

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp



Jakarta, CNBC Indonesia – Penjualan eceran di Indonesia tumbuh positif pada November 2021 dan diperkirakan berlanjut pada bulan setelahnya. Namun data ini bak pedang bermata dua, bisa disikapi secara positif tetapi juga wajib diwaspadai.

Bank Indonesia pada Selasa (11/1/2022) melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) periode November 2021 adalah 201. Naik 2,8% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm) dan melesat 10,8% dari periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Secara tahunan, pertumbuhan 10,8% jauh lebih baik ketimbang Oktober 2021 yang naik 6,5%. Pertumbuhan 10,8% juga menjadi yang tertinggi sejak Mei 2021.

Pada Desember 2021, BI memperkirakan IPR berada di 206,9. Naik 3% mtm dan 8,9% yoy.


Di satu sisi, perkembangan ini patut disyukuri. Data ini semakin memberi konfirmasi bahwa konsumsi rumah tangga Tanah Air sudah bangkit.

Kemarin, BI mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di 118,3. Indeks di atas 100 menandakan konsumen percaya diri dalam memandang prospek ekonomi saat ini hingga enam bulan mendatang.

Peningkatan konsumsi juga tercermin dari penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang mencerminkan transaksi di perekonomian. Pada 2020, setoran PPN Dalam Negeri tercatat Rp 298,84 triliun. Setahun kemudian, angkanya melonjak 14%.

“PPN masih kuat. Berarti ayunan pemulihan bergerak menguat,” tegas Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam konferensi pers awal bulan ini.

Konsumsi yang kuat juga ditandai oleh tingginya aktivitas masyarakat di luar rumah. Mengutip Covid-19 Community Mobility Report keluaran Google, tingkat kunjungan ke tempat perbelanjaan ritel dan rekreasi bertahan di atas hari-hari sebelum pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).


Pemandangan serupa terlihat di indeks mobilitas dari Apple. Indeks mobilitas dengan mengemudi di Indonesia terus berada di di atas 100. Artinya, mobilitas sudah melampaui masa pra-pandemi.


Ingat, konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari sisi pengeluaran. Jadi kalau tanda-tanda kuatnya konsumsi rumah tangga kian terlihat, maka prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal cerah.

Halaman Selanjutnya –> Ada Tanda Pandemi Ganas Lagi



Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore