Mitos Beringin Kembar Penghuni Alun-Alun Yogyakarta yang Dijual Virtual | kurusetra

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp


Wisatawan mencoba laku masangin di Alun-Alun Yogyakarta, Kamis (29/10). Laku Masangin menjadi salah satu daya tarik wisatawan saat mengunjungi Alun-alun  Yogyakarta. Mitosnya jika wisatawan bisa berjalan lurus dengan menutup mata ke arah beringin kembar maka keinginan akan terkabul. (Foto: Wihdan Hidayat/ Republika)
Wisatawan mencoba laku masangin di Alun-Alun Yogyakarta, Kamis (29/10). Laku Masangin menjadi salah satu daya tarik wisatawan saat mengunjungi Alun-alun Yogyakarta. Mitosnya jika wisatawan bisa berjalan lurus dengan menutup mata ke arah beringin kembar maka keinginan akan terkabul. (Foto: Wihdan Hidayat/ Republika)

SALAM SEDULUR — Kabar tentang penjualan aset yang dimiliki Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dijual secara virtual melalui situs Next Earth. Aset yang dijual ini meliputi Alun-alun Utara, Kantor Gubernur DIY (Kepatihan) hingga Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.

Alun-Alun Yogyakarta kaya akan peristiwa sejarah. Termasuk cerita-cerita mitos yang melegenda yakni beringin kembar. Saking kuatnya mitos pada beringin kembar di Alun-Alun Yogyakarta, memunculkan pertanyaan, jika benar ada seseorang yang ingin menjualnya, meski hanya secara virtual, tidakkah dia takut ketiban sial?

Yogyakarta memiliki dua alun-alun, pertama Alun-Alun Lor (Utara) yang letaknya di depan Keraton dan Alun-Alun Kidul (Selatan) yang berada di belakang Keraton. Persamaan dari kedua alun-alun itu adalah, keberadaan beringin kembar yang saling bersisian dan dikurung dengan pagar.

Namun, kedua pohon beringin yang tumbuh tepat di tengah-tengah alun-alun itu tidak asal ditanam. Di Alun-Alun Utara yang dijual virtual itu, kedua pohon beringin diberi nama Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru (sekarang bernama Kiai Wijayadaru).

Dalam Serat Salakapatra, benih Kiai Janadaru berasal dari Keraton Pajajaran. Sementara benih Kiai Dewadaru berasal dari Keraton Majapahit.

Pohon Dewadaru diambil dari kata dewa (Tuhan) dan daru (cahaya), sehingga Dewadaru dapat diartikan sebagai cahaya ketuhanan. Bersama-sama Masjid Gedhe Kauman, Kiai Dewadaru berada di sebelah barat garis sumbu filosofis. Pohon ini menjadi gambaran habluminallah atau hubungan manusia dengan Allah.

Sementara Pohon Janadaru berasal dari kata jana dan daru. Jana berarti manusia, dari berarti cahaya, sehingga Janadaru dapat diartikan sebagai cahaya kemanusiaan.

Pohon Janadaru letaknya di sisi timur bersisian dengan Pasar Beringharjo dalam sumbu filosofis. Pohon ini bermakna hubungan antara manusia dengan manusia atau habluminannas.

Seluruh permukaan Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan diselimuti pasir lembut. Pasir ini dimaknai sebagai laut tak berpantai yang merupakan perwujudan dari kemahatakhinggaan Tuhan. Karena itu, makna dari kedua alun-alun itu adalah manunggaling kawula Gusti, bersatunya raja dengan rakyat serta bertemunya manusia dengan Tuhannya.

Di Alun-Alun Utara, sebenarnya terdapat 64 pohon beringin. Dua beringin berada di tengah-tengah alun-alun, dan 62 lainnya mengelilingi alun-alun. Angka 64 bermakna usia Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika wafat dalam perhitungan Jawa.

Fungsi Alun-Alun
Jika Alun-Alun Utara yang dijual virtual lebih bermakna Ketuhanan, Alun-Alun Selatan memiliki fungsi lebih dekat kepada kehidupan manusia. Sama seperti Alun-Alun Utara, di Alun-Alun Kidul juga terdapat beringin kembar.

Pohon bukan sembarang pohon, ada banyak kisah yang sudah menyertainya, salah satunya kisah pernikahan putri Hamengkubuwono I. Cerita yang berkembang di masyarakat Yogya tentang beringin kembar berusia ratusan tahun tersebut datang dari zaman Sultan HB I. Ketika masih bertahta, putri Sultan hendak dipinang seorang pria. Namun, putri tersebut emoh karena tak begitu menyukai pria tersebut.

Guna menolak lamarannya, ia meminta syarat yakni pria tersebut diwajibkan berjalan dengan mata tertutup dari pendopo di sebelah utara Alun-Alun Kidul, melewati sela-sela antara dua pohon beringin kembar. Ia diharuskan berjalan lurus dan selesai di pendopo di sebelah selatan alun alun.

Siasat sang putri berhasil, sang pemuda gagal menyelesaikan misi sehingga lamarannya ditolak. Setelah itu, Sultan HB I bersabda jika yang bisa berjalan melewati beringin kembar dengan mata tertutup, hanyalah pemuda yang hatinya benar-benar bersih dan tulus. Hingga akhirnya ada seorang pemuda yang disebut sebagai putra Prabu Siliwangi yang berhasil melewati rintangan dan menikahi sang putri.

Alun-Alun Kidul juga dikenal sebagai pertahanan gaib di era penjajahan Belanda. Pertahanan gaib berfungsi mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar berbelok arah.

Tak hanya soal pernikahan, beringin kembar itu juga diyakini menyimpan aura mistis. Dalam kepercayaan masyarakat sekitar, beringin kembar itu adalah pintu gerbang laut selatan atau segoro kidul.

Kepercayaan terhadap mitos itu terus berkembang di warga lokal ketika di zaman Sultan HB VI. Seperti sudah menjadi rahasia umum, Keraton Yogya diyakini memiliki hubungan spesial dengan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.

Karena itu, berkembang keyakinan, siap saja yang hendak berbuat jahat kepada Keraton Yogyakarta akan kehilangan kesaktiannya usai melewati beringin kembar.

Lapangan Latihan Prajurit Keraton
Alun-Alun Utara yang membentang seluas 300 x 300 meter persegi dahulu dijadikan sebagai tempat latihan ketangkasan prajurit keraton, sekaligus tempat pemeriksaan pasukan menjelang upacara Garebeg. Prajurit berlatih ketangkasan berkuda atau setonan, hingga latihan memanah sambil bersila atau manahan. Tak hanya itu, Alun-Alun Kidul juga sempat menjadi tempat rampogan macan alias tradisi menombak harimau beramai-ramai.

Prajurit juga diminta untuk berlatih berkonsentrasi dengan cara berjalan lurus di antara beringin kembar. Tradisi yang disebut “masangin” itu kemudian coba dilakukan banyak warga, termasuk wisatawan sehingga dua beringin kembar tersebut semakin populer.

Kepopuleran masangin itu dalam upacara Keraton Yoga dilakukan setelah “topo bisu” alias bertapa tanpa berucap yang digelar setiap malam 1 Suro atau 1 Muharram dalam kalender Hijriyah. Ritual tersebut digelar untuk ngalap berkah serta memohon keselamatan untuk keraton dan rakyatnya.

Karena itu, mitos yang berkembang di masyarakat lokal adalah siapa yang bisa melewati sela-sela dua beringin kembar tersebut dengan mata tertutup, akan terkabul hajatnya. Hasilnya, seperti kita ketahui, hingga sekarang banyak orang penasaran membuktikan mitos tersebut.





Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore