Kecuali ANTM, Saham Produsen Nikel Ngacir Lagi Pagi Ini

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp



Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas saham emiten tambang nikel menguat ke zona hijau pada awal perdagangan hari ini, Kamis (13/1/2022), melanjutkan kecenderungan kenaikan pada perdagangan Rabu kemarin (12/1). Naiknya saham nikel ini terjadi seiring harga nikel menyentuh rekor tertinggi sejak 2012.

Berikut pergerakan saham data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.13 WIB.

  1. Vale Indonesia (INCO), naik +3,20%, ke Rp 4.520/saham





  2. Timah (TINS), +1,98%, ke Rp 1.285/saham

  3. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,57%, ke Rp 970/saham

  4. Central Omega Resources (DKFT), +0,83%, ke Rp 121/saham

  5. Harum Energy (HRUM), +0,65%, ke Rp 11.675/saham

  6. PAM Mineral (NICL), turun -1,45%, ke Rp 68/saham

  7. Aneka Tambang (ANTM), turun -3,10%, ke Rp 1.870/saham

Mengacu pada data di atas, saham INCO memimpin kenaikan 3,20% ke posisi Rp 4.520/saham, melanjutkan kenaikan 3,06% pada Rabu kemarin.

Pagi ini, investor asing terpantau melakukan beli bersih saham INCO Rp 3,23 miliar di pasar reguler.

Saham TINS dan NIKL juga masing-masing menguat 1,98% dan 1,57% pagi ini.

Berbeda dengan yang lain, saham NICL dan ANTM secara berturut-turut terkoreksi 1,45% dan 3,10%.

Khusus ANTM, Selama minggu ini saham ANTM sudah memerah selama 4 hari beruntun, dengan kemarin hingga menyentuh batas auto rejection bawah 6,97%. Adapun, sejak awal tahun ini, saham ANTM sudah turun 7 kali, stagnan sekali dan hanya satu kali menguat. Praktis, dalam sepekan saham ANTM melorot 15,70%.

Di tengah turunnya saham emiten BUMN tersebut, investor asing melakukan jual bersih di saham ANTM Rp 28,29 miliar di pasar reguler pagi ini.

Amblesnya saham ANTM bertepatan dengan kabar kandasnya rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) melakukan akuisisi perusahaan pabrik kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Jerman yakni StreetScooter. Sebagai informasi, IBC merupakan perusahaan patungan dari sejumlah BUMN, yakni Mind ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero) dan Antam.

Kemarin, harga kontrak berjangka nikel dunia cetak rekor tertinggi sejak 2012. Menurut data Investing, harga nikel per Rabu (12/1), berada di US$ 22.021,50/ton atau naik 1,04% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga nikel mencapai level tertinggi sejak 7 Februari 2012 di US$ 21.714/ton karena berkurangnya persediaan global yang menunjukkan permintaan yang solid.

Permintaan nikel untuk kendaraan listrik di China meningkat sehingga berdampak pada persediaan nikel yang semakin berkurang.

“Stok nikel di gudang LME sedang ditarik karena dapat digunakan untuk membuat nikel sulfat untuk baterai yang digunakan pada kendaraan listrik,” kata analis ING Wenyu Yao.

Pembuat mobil global seperti Volkswagen, General Motors, Toyota Motor Corp, dan Tesla Inc sedang meningkatkan produksi kendaraan listrik di China. China sebagai pasar mobil terbesar di dunia, telah menetapkan target untuk mobil lsitrik, termasuk hibrida plug-in dan kendaraan sel bahan bakar hidrogen, menghasilkan 20% dari penjualan mobil pada tahun 2025.

Persediaan nikel di gudang bursa logam London (LME) turun di bawah level 100.000 ton. Pada 10 Januari 2021 persediaan tercatat 99.954 ton. Jumlah ini turun 62,23% ptp dari persediaan tertinggi tahun lalu.

Sedangkan stok nikel di gudang Shanghai Futures Exchange (ShFE), konsumen nikel terbesar di dunia, mendekati rekor terendah di 4.859 ton. Jumlah ini turun dari sekitar 16.000 ton dari tahun lalu.

Harga nikel pada tahun 2022 diperkirakan bertumbuh lebih stabil dibanding tahun lalu yang meledak-ledak. Harga nikel masih akan ditopang oleh defisit pasokan.

Fitch Solution memperkirakan rata-rata harga nikel tahun 2022 akan berada di level US$ 17.000/ton. Sementara Konsensus Bloomberg memprediksi harga rata-rata nikel berada di US$ 19.000/ton.

Pasar nikel pada tahun ini diperkirakan masih mengalami defisit oleh Fitch Solution namun lebih rendah dari tahun lalu. Besarannya adalah defisit 274.000 ton, turun dari defisit tahun 2021 sebesar 298.000 ton. Defisit pasokan terjadi saat pasokan tidak dapat memenuhi permintaan atau konsumsi.

Konsumsi nikel diprediksi akan mencapai 2,66 juta ton tahun ini. Jumlah ini tumbuh 1,88% dari tahun lalu sebesar 2,6 juta ton. Sedangkan produksi tahun ini diproyeksi akan mencapai 2,38 juta ton, naik 3,12% dari tahun lalu sebesar 2,31 juta ton.

Konsumsi sebagian besar akan datang dari pabrik baja tahan karat (stainless steel). Stainless steel adalah barang hasil akhir yang menyumbang 60% permintaan nikel dunia. Namun, pertumbuhannya diperkirakan melambat dibanding tahun 2021.

Permintaan dari kendaraan listrik diprediksi akan tumbuh seiring penjualan yang meningkat, namun belum sebesar permintaan dari pabrik stainless steel.

Sementara itu, produksi nikel dunia yang naik didorong oleh Indonesia. Pertumbuhan produksi nikel garuda diperkirakan naik 15,6% dan jadi tertinggi dibanding negara produsen nikel olahan lainnya.

Indonesia patut bersyukur karena dilimpahi sejumlah sumber daya energi dan tambang, termasuk nikel. Bahkan, ‘harta karun’ nikel Indonesia merupakan terbesar dibandingkan negara lainnya. Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel).

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)





Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore