Jumlah Investor Pasar Modal RI Baru 0,8 Persen dari Populasi

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp



Jakarta, CNN Indonesia

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan jumlah investor pasar modal Tanah Air masih berjumlah 0,8 persen dari total penduduk Indonesia. Saat ini, jumlah investor masih berada di posisi 7,3 juta orang.

“Ternyata tantangannya adalah jutaan investor, tapi secara umum dibandingkan populasi kita masih 0,8 persen, masih rendah. Walau budaya investasi sudah mulai tumbuh, tapi masih butuh banyak akselerasi lagi,” kata Bhima dalam Webinar Pluang, Rabu (12/1).

Angka tersebut masih tertinggal jauh apabila dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia. Saat ini, Negeri Jiran memiliki investor sebesar 32,4 persen dari total populasi. Jumlah investor jauh lebih tinggi di Jepang hingga 48,3 persen dari total penduduk.

Bhima menjelaskan Indonesia seharusnya dapat belajar dari Jepang. Pasalnya, hampir setengah populasi penduduk Negeri Sakura familiar dengan investasi.

Padahal rasio utang Jepang terhadap produk domestik bruto (PDB) jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

“Pemerintah Jepang utangnya sangat besar dan rasio utangnya lebih dari 200 persen terhadap PDB, jadi rasio utang Indonesia gak ada apa-apanya dibandingkan Jepang,” ujarnya.

Namun demikian, mayoritas kepemilikan surat utang negara didominasi oleh investor dalam negeri, sehingga membuat ketahanan ekonomi Jepang lebih kuat saat menghadapi tekanan.

[Gambas:Video CNN]

“Tapi 80 persen kepemilikan surat utang pemerintah Jepang dimiliki oleh investor domestik. Jadi katakanlah ada tekanan ekonomi, yang terjadi uang itu tidak keluar dari negara, uang itu justru beredar di dalam negeri,” ucapnya.

Di lain sisi, Bhima menjelaskan instrumen investasi diperkirakan akan menjadi game changer di Tanah Air. Pasalnya, investasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dari sisi pengeluaran masyarakat menduduki posisi kedua sebesar 30,4 persen, hanya terpaut satu posisi dari konsumsi rumah tangga sebesar 53 persen.

“Nomor dua driver ekonomi Indonesia adalah investasi dan ini akan jadi game changer di tahun 2022. Kalau investasi lebih cepat, maka akan memberikan efek ke konsumsi rumah tangga,” katanya.

Menurutnya, konsumsi rumah tangga akan semakin tinggi dalam berbagai bentuk seperti lapangan pekerjaan, investasi teknologi, hingga penerimaan perpajakan.

(fry/agt)






Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore