IHSG Masih Galau, Bingung Mau Tentukan Arah Hari Ini

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp



Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,19% di 6.659,98 pada perdagangan Kamis (13/1/2021).

Pada 09.08 WIB, IHSG balik berada di zona merah dengan koreksi 0,04% di level 6.644,51. Asing pun masih net buy Rp 13 miliar di pasar reguler.

Kali ini saham yang menjadi incaran asing adalah saham BUMN PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net buy Rp 9,8 miliar dan Rp 10,9 miliar.

Sedangkan saham yang dilepas asing ada PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan net sell Rp 2,7 miliar dan Rp 3,3 miliar.

Pasar saham AS kompak menguat semalam. Indeks Dow Jones naik 0,11%. Sedangkan untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing menguat lebih dari 0,2%.

Rebound harga saham-saham di bursa AS terjadi setelah ketiga indeks terus menerus terkoreksi pekan lalu sejalan dengan kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 1,8%.

Rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang mencerminkan laju inflasi pada bulan Desember 2021 tercatat tumbuh 7% year on year (yoy) dan menjadi level tertinggi sejak 1982.

Meskipun inflasi berada di level tertingginya dalam 4 dekade terakhir, tetapi kenaikan ini sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.

Ekonom yang disurvei Dow Jones sudah memperkirakan bahwa IHK AS bulan Desember 2021 bakal naik 7% sesuai dengan angka aktual saat ini.

Melihat yield obligasi AS yang turun serta tekanan di pasar saham yang berkurang membuka peluang bagi aset-aset keuangan di negara berkembang seperti Indonesia untuk naik.

Selain mempertimbangkan faktor perkembangan pasar keuangan global, investor dan pelaku pasar perlu mencermati sentimen lain terutama dari perkembangan pandemi.

Saat ini dunia kembali dilanda gelombang lanjutan infeksi Covid-19. Kenaikan laju penularan ini diasosiasikan dengan penyebaran varian Omicron yang sudah ditemukan di lebih dari 110 negara.

Meskipun laju penularannnya tinggi, tetapi beberapa studi menunjukkan varian Omicron justru tidak seberbahaya Delta.

Namun tetap saja, jika kenaikan kasusnya semakin tinggi dan tak terkendali, hal ini bisa memantik pembatasan yang lebih ketat atau bahkan lockdown.

Merespons kenaikan kasus infeksi yang terus meluas, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,1% dan 3,2% untuk tahun 2022 dan 2023.

Dari dalam negeri sentiment datang dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Dalam konferensi pers-nya kemarin sore, Menko Luhut mengungkapkan bahwa tahun 2022 ini akan dipenuhi banyak ketidakpastian, bukan hanya akibat pandemi dengan varian baru Omicron, melainkan hal-hal lain di luar itu seperti sektor properti China yang tertekan karena utang.

Secara keseluruhan sentimen memang masih cenderung beragam sehingga investor masih harus lebih berhati-hati dalam mengambil langkah strategi investasinya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)





Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore