Untuk Pertama Kalinya, Anggota ISIS Divonis Bersalah Atas Upaya Genosida Minoritas


Anggota ISIS Pertam Kalinya Divonis Bersalah Atas Upaya Genosida Minoritas Yazidi

Taha al-Jumailly, anggot ISIS, menutupi wajahnya saat diseret masuk ruang sidang Pengadilan Frankfurt. Foto oleh FRANK RUMPENHORST/POOL/AFP via Getty Images

Seorang lelaki warga negara Irak, yang diadili di Jerman karena status kewarganegaraan istrinya, dijatuhi vonis penjara seumur hidup pada sidang 30 November 2021. Dia terbukti melakukan pembantaian sistematis terhadap warga minoritas Yazidi, selama menjadi anggota organisasi teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Lelaki 29 tahun bernama Taha al-Jumailly itu dijerat dengan pasal-pasal yang selama ini jarang dikenakan pada teroris, yakni kejahatan kemanusiaan, genosida, serta kejahatan perang. Pengadilan Kota Frankfurt menjadi yang pertama menghukum anggota ISIS atas tindakan mereka membantai warga penganut agama minoritas di Irak.

Mayoritas anggota ISIS lazimnya dikenai pasal seputar terorisme, tapi tidak pernah mencakup tindakan genosida. Jumailly menjadi teroris ISIS yang pertama terbukti berupaya melakukan pembersihan etnis Yazidi. Sedikit informasi, orang Yazidi, biasanya tinggal di perbukitan wilayah utara Kota Mosul, Irak, tidak menganut agama Islam, melainkan agama monoteistik yang lebih purba dari Yahudi. Namun karena iman yang berbeda itulah mereka jadi sasaran militan ISIS untuk disiksa dan dibunuh. Banyak pula perempuan Yazidi yang kemudian jadi budak seks para teroris khilafah.

Jumailly ditahan di perbatasan Yunani tiga tahun lalu, bersama istrinya Jennifer Wenisch yang berkebangsaan Jerman. Petugas perbatasan Yunani mendapat info bila Jumailly dan istrinya adalah anggota ISIS yang pura-pura jadi imigran, untuk kemudian menyusup ke Eropa. Setelah ditangkap, keduanya diesktradisi ke Jerman dan akhirnya diadili. Wenisch adalah perempuan Jerman yang teradikalisasi ISIS dan akhirnya berangkat ke Irak pada 2014 untuk membantu berdirinya kekhalifahan Islamiyah.

Wenisch, sang istri, sudah lebih dulu dikirim ke penjara pada Oktober 2021. Pengadilan Frankfurt mendapat bukti kuat bila Wenisch membunuh bocah perempuan Yazidi berusia 5 tahun di Kota Fallujah, Irak, pada 2015. Hakim menjatuhkan vonis 10 tahun penjara pada Wenisch.

Jumailly, menurut jaksa penuntut, kerap melakukan penyiksaan sadis pada gadis-gadis Yazidi. Salah satu metodenya adalah mengikat bocah ke kasur, yang kemudian dijemur di tengah terik gurun. Suhu siang hari di gurun bisa mencapai 50 derajat celcius.

Nadia Murad, perempuan Yazidi peraih Nobel Perdamaian 2018, berterima kasih pada pengadilan di Jerman karena berani melakukan terobosan hukuman untuk anggota ISIS yang selama ini diyakini sudah melakukan genosida.

“Vonis [di Frankfurt] adalah kemenangan bagi semua penyintas genosida di Irak dan Suriah, penyintas kekerasan seksual, serta seluruh anggota komunitas Yazidi,” ujar Murad.

Ada ribuan orang Yazidi yang ditahan dan disiksa militan ISIS selama mereka menduduki Irak pada 2014 hingga 2018. ISIS diketahui pernah menggelar operasi khusus ke pedesaan di kawasan Sinjar, secara spesifik untuk mengumpulkan warga Yazidi. Para perempuan dari penganut agama minoritas itu kemudian diperkosa ataupun diperjualbelikan setara budak, karena militan ISIS menganggap halal bagi mereka menyetubuhi orang kafir. Sementara laki-laki Yazidi yang tertangkap mayoritas dieksekusi mati.

Amal Clooney, pengacara HAM berbasis di London, mengapresiasi keputusan pengadilan Jerman memakai pasal genosida. Amal sekian tahun terakhir aktif mendampingi orang Yazidi yang berusaha menggugat balik mantan anggota ISIS yang diadili di berbagai negara Eropa.

Keputusan Pengadilan Frankfurt ini bisa jadi preseden untuk proses tuntutan di sidang-sidang mendatang.

“Inilah momen yang sudah ditunggu-tunggu seluruh orang Yazidi. Akhirnya mereka bisa meyakini kalau yang dialami tujuh tahun lalu adalah genosida. Tidak ada keraguan lagi. ISIS bersalah atas upaya genosida terhadap para penganut Yazidi,” tandas Amal.



Source link

Angka Perceraian Burung Albatross Meningkat Akibat Perubahan Iklim


Angka Perceraian Burung Albatross Meningkat Akibat Perubahan Iklim

Albatross dikenal sebagai burung yang kawin secara monogami. Foto oleh KIAH WALKER/via AFP

Burung-burung Albatross sedang mengalami gangguan siklus kawin di berbagai habitatnya. Banyak burung albatross dari pantauan ilmuwan kini tak lagi kawin dengan satu pasangan untuk seumur hidup. Hal ini mengejutkan, sebab albatross dikenal sebagai salah satu dari sedikit mahluk hidup di dunia yang secara alamiah menjalankan perkawinan monogami.

Berdasarkan penelitian tim Royal Society, lembaga peneliti sains dan lingkungan ternama asal Britania Raya, penyebab meningkatnya “kasus perceraian” burung albatross di berbagai wilayah dipicu suhu Bumi yang makin panas. Suhu permukaan laut juga turut menghangat, membuat ikan tambah sulit didapatkan albatross.

Dampak lanjutannya, albatross mengalami perubahan hormon yang memicu stres. Makin banyak albatross jantan yang tidak lagi berkumpul bersama pasangannya, karena mereka harus berburu lebih lama, menjangkau wilayah yang lebih jauh dari biasanya.

Kesimpulan penelitian ini didapat dari observasi selama 15 tahun di Kepulauan Falkland, sebelah selatan Samudra Atlantik. Peneliti melihat tren bahwa albatross jantan yang terlalu lama melakoni perburuan makanan cenderung memilih pasangan baru di musim kawin.

“Banyak albatross perempuan mengalami stres dan akhirnya tidak nyaman dengan para pejantan yang pergi terlalu lama untuk berburu makanan,” kata Francesco Ventura, salah satu anggota tim yang menulis artikel ilmiah tersebut. 

Albatross lazim ditemukan di belahan selatan Bumi, di Samudra Atlantik maupun Samudra Pasifik. Burung ini punya kecenderungan unik, karena hidup secara monogami. Bahkan albatross betina terpantau ilmuwan kerap merayakan kepulangan pejantannya setelah berburu makanan di samudra. Itu sebabnya, perubahan perilaku kawin mereka selama beberapa tahun terakhir ini mengejutkan ilmuwan.

Hasil lain dari pengamatan ilmuwan yang cukup mengkhawatirkan adalah anjloknya populasi albatross secara global. Angka kelahiran albatross sejak 2005 selalu turun, di kisaran 5 hingga 10 persen. Perubahan pola kawin yang dipengaruhi perubahan iklim disinyalir sebagai salah satu pemicunya.

Follow Heather Chen di Twitter





Source link

Karim Benzema Divonis Bersalah Sebar Video Seks, Mengaku Cuma Bantu Teman


Strike Real Madrid Karim Benzema Divonis Bersalah Sebar Video Seks Mathie Valbuena

Karim Benzema saat membela Real Madrid melawan Granada di ajang La Liga. Foto oleh David S. Bustamante/Soccrates/Getty Images

Pesepakbola tenar asal Prancis Karim Benzema divonis bersalah oleh pengadilan atas kasus pemerasan terhadap rekan sesama pemain timnas Mathieu Valbuena. Dia terbukti menyebar video seks Valbuena dengan seorang perempuan. Hakim menjatuhkan hukuman percobaan satu tahun, serta denda sebesar €75.000 (setara Rp1,2 miliar).

Kasus ini pertama kali mencuat pada 2015. Kala itu, jaksa Prancis memeriksa Benzema karena menyarankan Valbuena membayar empat orang yang mengaku punya rekaman seks pribadinya. Pembicaraan soal video seks itu berlangsung di pusat latihan timnas Prancis.

Sebelum Benzema mengajak Valbuena ngobrol soal skandal video seks, polisi Prancis ternyata sudah lebih dulu memantau semua orang yang terlibat. Dari penyelidikan polisi, Benzema ternyata berkomunikasi aktif dengan empat orang dengan agenda memeras Valbuena.

Dalam rekaman pembicaraan telepon yang didapat polisi, sang striker klub Real Madrid itu mengeluh kalau Valbuena ngotot tidak mau membayar orang yang mengancamnya. “[Valbuena] tidak menganggap ancaman kita serius,” kata Benzema.

Dalam sesi pengadilan tahun lalu, Benzema berkukuh tidak bersalah. Pesepakbola 33 tahun itu mengaku justru ingin membantu Valbuena terhindar dari masalah serius, bila rekaman video seks itu tersebar ke publik. Itu sebabnya, dia intens berkomunikasi dengan empat orang yang memeras rekannya di timnas.

Insiden ini membuat Benzema dan Valbuena terusir dari skuad Les Blues. Valbuena sampai sekarang tidak pernah lagi dipanggil timnas. Sementara Benzema akhirnya kembali mengenakan seragam timnas pada ajang Euro 2020, yang baru digelar awal tahun ini.



Source link