YouTuber tenar Mr. Beast mencatatkan rekor pribadi, ketika satu videonya berhasil meraup lebih dari 100 juta views kurang dari satu minggu penayangan. Video tersebut berisi upaya Mr. Beast mereka ulang berbagai permainan dalam serial Netflix Squid Game, melibatkan ratusan peserta.

Para peserta itu bersaing mendapatkan hadiah utama US$456 ribu, jika berhasil menjadi yang satu-satunya tersisa dalam kompetisi. Seperti di cerita Squid Game, tayangan YouTube tersebut juga mengeliminasi tiap pesertanya bila gagal melakukan beragam permainan anak. Tentu saja, karena ini YouTube, tidak ada peserta yang dibunuh oleh panitia seperti di serialnya.

Mr. Beast sangat bahagia ketika “kontennya” berhasil ditonton puluhan juta orang di hari perdana penayangan. Mantan petinggi YouTube juga memberinya ucapan selamat di Twitter, karena video tersebut menandai makin populernya “para kreator konten” di ekosistem hiburan digital.

Pertanyaannya, benarkah rekor-rekor yang dicatatkan Mr Beast sebagai hal yang positif bagi industri kreatif?

Kritik dari netizen di media sosial segera bermunculan. Konten Mr Beast dianggap sekadar “nebeng” popularitas serial TV dari Korsel yang perlu waktu panjang untuk dibuat. Tragisnya, dengan effort yang jauh lebih ringan, konten Mr Beast bisa mendapat views tak kalah besar.

Sedikit informasi, Squid Game butuh lebih dari 10 tahun untuk akhirnya bisa diproduksi dan tayang di Netflix. Sang penulis skenario sekaligus sutradaranya, Hwang Dong-hyuk, mengaku naskah Squid Game sempat ditolak berbagai petinggi stasiun televisi Korsel.

Saat diwawancarai the Korean Times, Dong-hyuk mengaku tidak sadar kalau ide cerita orang miskin ikut permainan berbahaya demi mendapat uang banyak akan relevan dengan situasi dunia 12 tahun dari momen awal dia menuliskannya. “Jujur saya sendiri baru menyadari kenapa penonton di berbagai negara bisa merasa simpati pada tokoh-tokoh di Squid Game, sepertinya karena dunia sekarang mendorong orang makin berani bertaruh, termasuk dalam praktik mata uang kripto, properti, atau saham,” ujarnya.

Membaca pernyataan sang kreator Squid Games, kita bisa melihat bahwa cerita di serialnya secara tersirat mengkritik kapitalisme masa kini. Namun berbagai elemen sosial itu hilang dalam konten Mr Beast. Sang YouTuber, secara ironis, justru berperan sebagai kaum tajir yang mengajak orang putus asa untuk mengikuti permainannya demi segepok uang.

Mr. Beast membuat konten tiruan Squid Games itu dalam tujuh minggu, merekonstruksi ulang setting dan aturan permainan, sembari mengajak 456 orang untuk ikut serta memperebutkan hadiah utama US$456.000.

Sejujurnya, lonten yang lahir dari jiplakan atau parodi bukan hal baru di YouTube. Akan tetapi, menyedihkan sekali melihat esensi sebuah karya (dalam hal ini pesan utama dari serial TV yang kritis terhadap kondisi dunia), justru hilang dalam produk jiplakan yang populer. Lomba-lomba ala Squid Game yang dibuat Mr Beast sepenuhnya hiburan. Tidak ada lagi drama, lebih-lebih kritik sosial. Ketika Squid Game menyorot betapa ketimpangan sosial ini merugikan orang miskin, konten Mr. Beast secara tidak langsung merayakannya.

Kita tidak perlu sampai membahas etis tidaknya konten jiplakan acara populer macam Mr Beast marak di YouTube. Jawabannya sudah cukup jelas. Akan tetapi, melihat video macam itu meraup banyak views, boleh dibilang ada yang salah dari sistem YouTube, serta algoritma yang mereka rancang untuk menarik perhatian penonton.

Konten-konten di YouTube diklaim memberi ruang bagi “konten kreator”, namun pertanyaanya, seberapa besar orisinalitas ide dirayakan di algoritma platform tersebut? YouTube merupakan salah satu platform yang dipenuhi oleh konten jiplakan, yang secara sadar “nebeng” popularitas acara/film/brand tertentu. Berbagai konten “reaction” atau “ringkasan cerita film & serial” (yang seringkali marak ditonton), pastinya membuat kita bertanya-tanya, “konten macam ini effort-nya di mana?”

Kalau memang konten macam itu sukses, apakah berarti YouTube tidak peduli pada kebaruan ide? Bila demikian, buat apa juga kita mikirin konsep konten, kalau memang platformnya mengizinkan kita bikin tayangan-tayangan tak bermutu, asal views-nya jutaan?

Keresahan macam ini sudah sering diutarakan oleh para YouTuber yang berusaha membuat konten berkualitas. Mereka capek-capek bikin konten berdurasi 10 menit, dengan riset panjang dan butuh lebih dari seminggu produksi, tapi pada akhirnya kalah dari “kreator” lain yang cukup bikin reaksi nonton video yang sedang populer.

Video reka ulang Squid Game oleh Mr. Beast, sekalipun butuh modal besar untuk dibuat, esensinya tidak jauh beda dari konten jiplakan lain yang bertebaran di YouTube. Bahkan di tengah-tengah video tersebut, Mr. Beast memuat pariwara untuk game mobile Brawl Stars. Artinya, sang YouTuber secara tidak langsung meraup untung dengan memanfaatkan kerja keras kreator lain, dalam hal ini Hwang Dong-hyuk.

Jika video macam yang dibuat Mr. Beast adalah contoh kesuksesan bagi konten kreator, maka itu tanda bahaya bagi industri kreatif secara keseluruhan.



Source link