Karim Benzema Divonis Bersalah Sebar Video Seks, Mengaku Cuma Bantu Teman


Strike Real Madrid Karim Benzema Divonis Bersalah Sebar Video Seks Mathie Valbuena

Karim Benzema saat membela Real Madrid melawan Granada di ajang La Liga. Foto oleh David S. Bustamante/Soccrates/Getty Images

Pesepakbola tenar asal Prancis Karim Benzema divonis bersalah oleh pengadilan atas kasus pemerasan terhadap rekan sesama pemain timnas Mathieu Valbuena. Dia terbukti menyebar video seks Valbuena dengan seorang perempuan. Hakim menjatuhkan hukuman percobaan satu tahun, serta denda sebesar €75.000 (setara Rp1,2 miliar).

Kasus ini pertama kali mencuat pada 2015. Kala itu, jaksa Prancis memeriksa Benzema karena menyarankan Valbuena membayar empat orang yang mengaku punya rekaman seks pribadinya. Pembicaraan soal video seks itu berlangsung di pusat latihan timnas Prancis.

Sebelum Benzema mengajak Valbuena ngobrol soal skandal video seks, polisi Prancis ternyata sudah lebih dulu memantau semua orang yang terlibat. Dari penyelidikan polisi, Benzema ternyata berkomunikasi aktif dengan empat orang dengan agenda memeras Valbuena.

Dalam rekaman pembicaraan telepon yang didapat polisi, sang striker klub Real Madrid itu mengeluh kalau Valbuena ngotot tidak mau membayar orang yang mengancamnya. “[Valbuena] tidak menganggap ancaman kita serius,” kata Benzema.

Dalam sesi pengadilan tahun lalu, Benzema berkukuh tidak bersalah. Pesepakbola 33 tahun itu mengaku justru ingin membantu Valbuena terhindar dari masalah serius, bila rekaman video seks itu tersebar ke publik. Itu sebabnya, dia intens berkomunikasi dengan empat orang yang memeras rekannya di timnas.

Insiden ini membuat Benzema dan Valbuena terusir dari skuad Les Blues. Valbuena sampai sekarang tidak pernah lagi dipanggil timnas. Sementara Benzema akhirnya kembali mengenakan seragam timnas pada ajang Euro 2020, yang baru digelar awal tahun ini.



Source link

Agar Tidak Dicuri Fans, Jasad Diego Maradona Ternyata Dimakamkan Tanpa Jantung


Jasad Diego Maradona Dimakamkan Tanpa Jantung Agar tidak dicuri suporter

Legenda sepakboal Argentina Diego Maradona. Foto oleh Steve Powell/Allsport/Getty Images

Pada November 2020, dunia olahraga berkabung atas kematian Diego Maradona, legenda sepakbola Argentina yang didewakan para penggemar setianya. Setahun kemudian, terkuak rahasia mengejutkan terkait pemakamannya. Buku terbaru yang ditulis dokter dan jurnalis Argentina mengungkapkan mantan bintang Napoli dimakamkan tanpa jantung.

Nelson Castro, penulis buku itu, mengklaim organ Maradona sengaja diangkat sebelum disemayamkan karena ada kekhawatiran suporter akan merusak kuburan dan mengambil jantung idola mereka. Dia melontarkan pernyataan mengejutkan tersebut saat mempromosikan buku bertajuk ‘La salud de Diego: la verdadera historia’ (Kesehatan Diego: Kisah Nyata’) di stasiun televisi Argentina pekan ini.

“Ada sekelompok [pendukung tim Gimnasia y Esgrima La Plata] yang berencana membongkar kuburan dan mengambil jantungnya,” tutur Castro. “Tercium kabar ini akan terjadi, sehingga jantungnya diangkat.”

Selain mencegah pencurian, tim dokter ingin memeriksanya lebih lanjut agar menemukan penyebab kematiannya. Castro tidak memberikan informasi tambahan soal rencana pencurian ini.

Setelah sukses menjadi atlet sepakbola, Maradona banting setir jadi pelatih timnas Argentina dan beberapa klub lain. Gimnasia y Esgrima La Plata merupakan tim terakhir yang berada di bawah asuhan Maradona. Para suporter tim inilah yang disebut-sebut berencana mencuri jantungnya.

Namun, kariernya yang mengesankan di atas lapangan dibayangi oleh skandal. Dia diketahui mengalami kecanduan obat-obatan.

“Orang lain takkan mungkin bisa hidup lama,” ujar Castro. “Sayangnya, dia ketergantungan segala sesuatu yang merusak dirinya. Maradona kecanduan segalanya.”

Dia lebih lanjut menjelaskan jantung Maradona beratnya setengah kilogram, hampir dua kali lipat lebih berat dari jantung orang biasa. Menurutnya, ini disebabkan oleh gagal jantung yang dideritanya sebelum menutup usia.

Maradona juga terseret kasus kekerasan seksual bahkan setelah kematiannya.

Mavys Álvarez, perempuan 37 tahun asal Kuba, belum lama membeberkan kekerasan seksual yang Maradona lakukan terhadapnya. Dia masih remaja kala itu, sedangkan pesepakbola legendaris telah berusia 40.

Menurut pengakuannya kepada media lokal, Álvarez bertemu Maradona saat dia baru 16 tahun di Kuba. Sejak pertemuannya pada 2000, dia terlibat dalam hubungan seksual bersama Maradona dan tinggal bersamanya. Dia menuduh Maradona menyembunyikan keberadaannya dari sang ibu dan memerkosanya.

“Maradona menutup mulut saya agar tidak berteriak, supaya saya tidak menceritakan kalau dia telah menganiaya saya. Ibu datang ke rumah kami di Havana, dan Diego tidak mau membukakan pintu. […] Dia memerkosa saya,” katanya kepada Infobae.

Maradona dituduh mendapat bantuan dari Fidel Castro untuk menyelundupkan Álvarez ke Argentina saat dia masih di bawah umur. Setibanya di sana, Maradona melarangnya meninggalkan hotel.

Berdasarkan ceritanya, Maradona memaksanya untuk operasi pembesaran payudara saat di Argentina. Padahal, dia baru 17 tahun saat itu dan tidak menerima persetujuan dari orang tuanya. Dengan demikian, prosedur ini ilegal.

Álvarez menyertakan beberapa foto-foto yang menurutnya menunjukkan dirinya saat remaja bersama Maradona di Kuba dan Argentina.



Source link