Warga Kalteng Korban Banjir Kritik Menteri LHK di Acara Titip Salam DJ Anis Norin

Wilayah hutan Gunung Mas, Kalimantan Selatan dibabat untuk proyek pemerintah pada 5 Maret 2021, ditengarai memicu dampak lingkungan. Foto oleh GALIH/AFP

Nasib buruk orang Indonesia: kita harus pinter-pinter cari cara alternatif menyampaikan aspirasi ke pemerintah kalau mau beneran didengar, atau setidaknya ramai diperbincangkan banyak orang. 

Akhir pekan lalu, tuntutan menjadi netizen kreatif tersebut membuat seorang warga asal Kalimantan Tengah (Kalteng) menemukan cara baru. Ia mencurahkan kekesalannya sebagai langganan korban bencana alam kepada DJ Anis Norin. Disc Jockey asal Surabaya itu emang suka mengunggah konten “titip salam”, tempat di mana ia mempersilakan pengikutnya menyampaikan salam-salam di sela pemutaran lagu kayak di radio. 

“Spesial dari hutan Indonesia untuk Bu Siti [Menteri LHK yang bilang] seumur hidup minimal tanamlah 25 pohon, tapi yang ditebang ratusan hektare. Pas banjir yang disalahin curah hujan. Katanya komitmen tapi kok cuma setengah hati? TBL, TBL, TBL, takut banget loh!” ucap DJ Anis membacakan salam pada video.

Sebenarnya, respons publik enggak begitu ramai di postingan asli video di akun Instagram dan TikTok DJ Anis. Namun, konten sukses memancing perbincangan netizen ketika dibagikan ulang di Twitter. Kepada CNN Indonesia, DJ Anis mengaku sekadar berlaku profesional saat memutuskan membacakan kritik warga. Sementara, pengirim pesan mengaku kesal karena capek terus-terusan jadi korban bencana ekologis dari pembabatan hutan, namun bingung harus mengadu ke mana.

“Saya udah capek banget terus-menerus jadi korban, kebakaran hutan jadi korban, kalau banjir jadi korban. Saya bingung mau mengadu sama siapa untuk bisa sampai ke Bu Siti,” katanya kepada CNN Indonesia. “Jadi, saya minta tolong DJ Anis aja supaya Bu Siti dengar, sekalian saya bisa request lagu dangdut favorit saya. Enggak kebayang sih sampe viral, soalnya saya awalnya cuma iseng buat pelampiasan aja,” katanya.

Sebagai konteks buat pembaca yang kurang update, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar sebelumnya pernah membuat utas di Twitter berisi saran kepada masyarakat untuk menanam setidaknya 25 pohon selama hidupnya. Saran ini langsung panen kritik karena belum lama ini doi juga bilang bahwa pembangunan yang dilakukan Presiden Joko widodo tidak boleh terhambat atas nama deforestasi.

Menyongsong musim hujan akhir tahun ini, semua provinsi di Pulau Kalimantan diterjang banjir. KLHK menyebutkan ada berbagai faktor yang menyebabkan banjir sekaligus konsisten berlindung di balik alasan curah hujan yang lebih ekstrem. Contoh ini emang langganan dipakai. Sebut saja pas banjir Kalsel pada Januari tahun ini, akibat luapan air Sungai Barito. Peristiwa ini juga disebut Siti Nurbaya disebabkan curah hujan sangat tinggi sembari menolak tudingan bahwa banjir berkaitan dengan penggundulan hutan.

Mengkritik apatisme pemerintah lewat acara titip salam emang trik baru. Tapi aksi protes kecil-kecilan dari rakyat akar rumput sudah biasa terjadi kok. Kasus-kasus jalan rusak adalah contoh menarik mengenai cara warga mengkritik sekaligus menertawakan pembangunan yang serawutan.

Pada 2019 di Kendari, Sulawesi Tenggara, misalnya, warga mengaku kesal karena lubang di jalan tidak juga diperbaiki pemerintah sampai 10 tahun. Warga lantas melaksanakan aksi protes dengan memancing di kubangan air yang terbentuk dari lubang tersebut.

“Kalau [waktu] sekolah, jalannya padat sekali. Sudah ada anak sekolah yang jatuh di jalan itu juga,” kata Jumadin, salah satu warga setempat, kepada Detik. Di Lombok pada 2019, seorang pria bernama Amaq Ohan memilih mandi di air kubangan di jalan Kabupaten Lombok Tengah. Sementara di Kota Palu, warga protes ke pemerintah Kota Palu yang tak kunjung memperbaiki jalanan dengan menanam pohon pisang pada lubang jalan.





Source link