Ngambek Anggaran Lembaganya Dipotong, Petinggi MPR Minta Menkeu Sri Mulyani Dicopot


Petinggi MPR RI Desak Presiden Pecat Menkeu Sri Mulyani Karena Anggaran Dipotong

Ketua MPR RI sekaligus politikus Partai Golkar Bambang Soestyo. Foto oleh Orhan Karsli/Anadolu Agency via Getty Images

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia merasa sedang berkonflik dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Pangkal masalahnya, anggaran operasional MPR untuk tahun anggaran 2022 dipangkas. Kemenkeu, sebagai bendahara negara, merasa perlu melakukan pengalihan pos anggaran dalam rangka penanggulangan Covid-19.

Alhasil, anggaran operasional MPR yang sempat mencapai Rp1,04 triliun tiga tahun lalu, untuk 2022 turun menjadi Rp695,7 miliar, merujuk laporan CNBC Indonesia. Anggaran itu turun dari rencana awal Rp750,87 miliar, mencakup belanja pegawai, belanja barang, hingga belanja modal MPR RI.

Jika melihat proses pembahasan APBN selama lima tahun terakhir, anggaran khusus untuk MPR sebetulnya kerap naik turun. Namun untuk kali ini, petinggi MPR merasa tidak terima, lantaran menkeu dianggap bersikap tidak sopan.

MPR mengklaim sudah mengundang Menkeu Sri Mulyani rapat beberapa kali untuk merundingkan pemangkasan anggaran. Karena satu dan lain hal, Menkeu tidak pernah menghadiri undangan rapat tersebut. Ketidakhadiran Sri Mulyani, menurut Ketua MPR Bambang Soesatyo, membuat muntab kolega-koleganya.

“Sudah beberapa kali diundang oleh Pimpinan MPR, Sri Mulyani tidak pernah datang. Dua hari sebelum diundang rapat, dia selalu membatalkan datang. Ini menunjukkan bahwa Sri Mulyani tidak menghargai MPR sebagai lembaga tinggi negara,” kata politikus Golkar akrab disapa Bamsoet itu, lewat keterangan tertulis.

Saking marahnya pada kebijakan pemotongan anggaran ini, Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, yang sama-sama dari partai Golkar, mendesak Presiden Joko Widodo mencopot Sri Mulyani dari posisinya sebagai bendahara negara.

Anggaran MPR yang dirumuskan Kemenkeu dianggap Fadel tidak memadai untuk menjalankan program-program lembaga mereka. Salah satu pos anggaran MPR yang paling terpotong adalah sosialisasi empat pilar kebangsaan, program yang rutin dikritik pengamat politik karena tidak jelas dampaknya.

“Kami di MPR ini kan pimpinannya 10 orang, dulu cuma empat orang kemudian 10 orang. Namun anggaran di MPR malah turun, turun terus,” kata Fadel, pada Selasa (30/11), seperti dikutip Kompas.com. Pemangkasan anggaran, ditambah ketidakhadiran Sri Mulyani diundang rapat MPR, menurut Fadel merupakan bukti menkeu tidak becus bekerja.

“Copot Sri Mulyani Indrawati, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” tandas Fadel. “MPR adalah sebuah lembaga tinggi negara, kita minta agar mendapatkan perlakuan yang wajar, dibandingkan dengan yang lain-lain.”

Desakan petinggi MPR agar Menkeu Sri Mulyani dicopot, mendapat kritikan balik dari lembaga swadaya Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi). Pasalnya, MPR seharusnya memperjuangkan anggaran lembaganya sejak fase pembahasan APBN antara Kemenkeu dan Badan Anggaran di DPR, yang berlangsung sejak awal tahun ini.

Peneliti Formappi, Lucius Karus, menuding sikap Bamsoet dan Fadel “kekanak-kanakan.” Menurutnya Bamsoet Cs salah alamat bila menuding Sri Mulyani sebagai satunya-satunya penentu pengurangan pos anggaran MPR RI, mengingat DPR juga terlibat dalam diskusi APBN untuk 2022. Jika memang keberatan dengan penyusunan APBN, sudah ada jalur resmi yang bisa dipakai MPR untuk membahasnya di tataran DPR.

“Jangan manfaatkan lembaga untuk mengintimidasi pejabat lain, apalagi dengan alasan yang lebih terlihat sentimentil,” kata Lucius, saat diwawancarai CNN Indonesia.

Lucius sekaligus mengkritik kebijakan sosialisasi empat pilar kebangsaan yang jadi alasan MPR meminta anggaran dinaikkan. “Ini lebih terlihat seperti proyek-proyekan MPR saja. Sudah cukup lama sosialisasi empat pilar ini dilakukan MPR, mana hasilnya?” tandas Lucius.

Dihubungi terpisah oleh media, juru bicara Kemenkeu memastikan pemotongan anggaran MPR untuk 2022 terpaksa dilakukan, karena pemerintah perlu mendukung pos pengeluaran lain terkait Covid-19. Pos-pos itu misalnya penambahan bantuan sosial, bantuan UMKM, serta bantuan biaya perawatan masyarakat yang terpapar Covid varian Delta.



Source link

Polres Sukoharjo Secara Dramatis Selamatkan 53 Anjing yang Nyaris Jadi Rica-Rica


Polres Sukoharjo Secara Dramatis Selamatkan 53 Anjing yang Hendak Disembelih Jagal untuk rica-rica

Seperti ini kondisi 53 anjing yang hendak dijagal di Sukoharjo, saat diselamatkan polisi pada 24 November 2021. Foto oleh Yoma Times Suryadi/AP Images for HSI

Puluhan anjing berdempetan dalam karung terikat, serta mulut yang dibungkam dengan tali rafia. Mereka hampir pasti bernasib menjadi daging dalam olahan rica-rica, andai aparat tidak menyetop kendaraan yang membawa hewan-hewan malang tersebut.

Dalam operasi pengintaian terpadu, Kepolisian Sukoharjo, Jawa Tengah, menghentikan laju sebuah truk. Setelah truk dibawa ke Mapolres dan digeledah, muatannya ternyata 53 anjing yang hendak diperjualbelikan ke jagal. Sang pengemudi truk segera ditahan oleh aparat. Saat ditangkap pelaku tidak memiliki dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). 

Penangkapan truk bermuatan anjing ini berlangsung pada 24 November 2021, pada pukul 00.30 WIB, di salah satu ruas jalan utama Kecamatan Kartasura. Menurut pengakuan sopir, ke-53 anjing itu harusnya dikirim ke Desa Ngadirejo, kediaman seorang pengepul daging anjing skala besar. Daging anjing masih marak dikonsumsi di kawasan Solo Raya, mencakup Surakarta, Sukoharjo, atau Karanganyar, dalam wujud sup rica-rica atau sate.

Polisi menyatakan operasi penyelamatan anjing-anjing itu berdasar informasi yang dipasok komunitas Dog Meat Free Indonesia (DMFI). “Petugas mendapatkan informasi dari masyarakat, bahwa di wilayah hukum Polres Sukoharjo banyak beredar pedagang kaki lima yang menjual anjing untuk digunakan dalam pembuatan masakan,” kata Kapolres Sukoharjo, AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, seperti dilaporkan Suara.com.

Dalam keterangan tertulis yang diterima VICE dari DMFI, operasi penyelamatan ini sangat penting, karena polisi sekaligus berhasil menguak pemain kakap dalam bisnis perdagangan daging anjing. Tersangka pelaku menurut polisi berinisial GTS, lelaki 40 tahun asal Kabupaten Sragen, ditengarai sudah menjalankan bisnis penjualan anjing selama lebih dari dua dekade. Pelaku diyakini rutin menjual ratusan anjing ke pengepul besar di berbagai kota Pulau Jawa saban bulan.

Dogs rescued in the raid are transported. Photo: Yoma Times Suryadi/AP Images for HSI

Beberapa anjing yang bakal dijual berhasil diselamatkan Polres Sukoharjo. Foto oleh Yoma Times Suryadi/AP Images for HSI

“Kami berharap penangkapan ini akan disertai upaya hukum serius, sehingga mengirim sinyal pada pedagang daging anjing lain yang masih beroperasi bahwa bisnis mereka ilegal,” demikian kutipan pernyataan DMFI.

Lola Webber, direktur divisi Humane Society International, lembaga swadaya yang menjadi anggota koalisi DMFI, mengaku menyaksikan langsung proses penyelamatan 53 anjing di Kartasura yang berlangsung dramatis.

“Jantung saya berdebar-debar ketika teman-teman pecinta binatang mendekati truk bersama polisi,” ujarnya. “Sebelum pintu truk terbuka saja, sudah terdengar lenguhan anjing-anjing yang mulutnya terbungkam. Mereka semua terikat dalam karung.”

Dog Meat Free Indonesia members rescue dogs found in a police raid on local dog meat trade in Central Java.

Anggota Koalisi DMFI memeriksa kesehatan anjing yang nyaris dijual di Sukoharjo. Foto oleh Yoma Times Suryadi/AP Images for HSI

Menurut pengamatan Webber, setidaknya ada satu anjing yang akhirnya meninggal dalam proses evakuasi ke dokter hewan selepas dibebaskan dari truk. Sebagian besar anjing yang dijual itu berusia kurang dari setahun dan memiliki tali leher. Artinya, mayoritas anjing yang diselamatkan di Sukoharjo ini adalah hewan peliharaan yang dicuri.

“Membayangkan apa yang harus dilalui anjing-anjing tersebut selama diangkut truk sangat menyesakkan,” kata Webber. “Untunglah penyelamatan berhasil dilakukan dengan cepat, karena telat dalam hitungan jam saja, mereka sudah pasti dibantai.”

Dog Meat Free Indonesia members rescue dogs found in a police raid on local dog meat trade in Central Java.

Dokter hewan yang ikut dalam rombongan DMFI memeriksa kondisi anjing yang diselamatkan di Sukoharjo. Foto oleh Yoma Times Suryadi/AP Images for HSI

Karena cukup sulit melacak pemilik lama anjing-anjing tersebut, DMFI memutuskan untuk mengirim mayoritas dari mereka ke shelter, untuk selanjutnya diadopsi calon pemilik baru. Sebagian anjing tersebut akan diterbangkan ke shelter dan lokasi perawatan di Kanada.

Polisi menyatakan sebagian besar anjing yang diselamatkan dari truk di Kartasura itu berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Karena operasi pengiriman anjing itu berlangsung lintas provinsi, pelaku berpotensi melanggar aturan kekarantinaan sesuai Pasal 89 ayat (2) UU RI no 41 tahun 2014, dengan ancaman hukuman penjara hingga 5 tahun penjara, plus denda maksimal Rp150 juta.

Operasi pada 24 November ini menandai keberhasilan untuk kedua kalinya polisi mencegah terjadinya penjualan daging anjing skala massif di Indonesia. Berbagai pemda maupun pemerintah pusat memang belum tegas melarang konsumsi daging anjing, namun polisi mulai secara aktif memburu para penjualnya.

Momen penting yang sebelumnya tercatat adalah hukuman penjara 10 bulan dan denda Rp150 juta kepada Suradi, seorang warga Sragen, pada Oktober 2021. Kasus itu penting, karena menandai untuk pertama kalinya penjual daging anjing berhasil dijerat dengan pasal kekarantinaan. Suradi juga terbukti pemain kakap yang rutin menyelundupkan anjing dari Jawa Barat ke Jawa Tengah untuk disembelih.

A police raid in Sukohrajo, Central Java, Indonesia, saw 53 dogs rescued at a slaughterhouse.

Salah satu anjing yang diselamatkan di Sukohrajo mulutnya masih dibungkam tali rafia. Foto oleh Yoma Times Suryadi/AP Images for HSI

Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru, sebetulnya 93 persen responden di Indonesia setuju bila muncul larangan tegas konsumsi daging anjing secara nasional. Akan tetapi konsumsi daging anjing terlanjur membudaya di beberapa provinsi Indonesia, contohnya di Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. Imbasnya, setiap bulan DMFI memperkirakan ada ratusan anjing yang bernasib menjadi santapan manusia.

Menurut penyidik Satreskrim Polres Sukoharjo, AKP Tarjono Sapto Nugroho, masyarakat di sekitar lokasi penjagalan anjing tidak mendukung bisnis macam ini diteruskan.

“Konsumsi daging anjing ini memang dianggap sebagian masyarakat sebagai budaya. Namun budaya selalu berkembang dan kita sebaiknya tidak lagi mengonsumsi anjing,” ujar Tarjono.

Follow Koh Ewe di Instagram.





Source link

Beginilah Rasanya Sampai Dewasa Punya Nama Panggilan Nyeleneh di Tongkrongan


Budaya memberi nama panggilan nyeleneh di kalangan remaja Indonesia

Foto ilustrasi pergaulan remaja di Indonesia oleh Hariandi Hafid/SOPA via Getty Images

Kita pasti punya setidaknya satu kawan di sekolah yang insting berbisnisnya moncer sejak kecil. Bentuknya macam-macam. Ada yang menjual nasi goreng bikinan emak ke teman sekelas, jadi makelar kunci jawaban ujian akhir nasional, atau sekadar berbaik hati menawarkan uang cepat kepada kawan terdekat lewat mekanisme multi-level marketing berhadiah kapal pesiar. Terlepas dari pandangan orang terhadap kegiatan ekonomi yang mereka jalani, rasa segan kita biasanya muncul melihat kegigihan kawan dalam memutar roda ekonomi negara di usia belia.

Rentang tahun 1994-1995, Surya Adi menjadi bagian dari kelompok “pebisnis cilik” ini. Saat itu, ia tengah mengecap pendidikan di salah satu SMP di kawasan Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Di sebelah pasar itu, sebuah SD berdiri sejajar. Di sanalah Adi melihat target pasar dari produk yang ia jual.

Di sana, Adi berdagang kartu hologram porno.

“Jualan kartu-kartu hologram [bergambar] mbak-mbak yang kalau [kartunya] digerakin jadi telanjang. Aku lupa berapa harga jualnya. Supplier-ku tukang es jeruk keliling di daerah Taman Puring. Aku cuma iseng-iseng jualin, enggak tahu atas dasar apa karena aku juga enggak butuh duit pas itu,” kata Adi kepada VICE, mengenang masa jahiliyah itu.

Karena emang enggak begitu ia tutup-tutupi, teman-teman tongkrongannya tahu bisnis ini. Sejak saat itu, ia dapat nama panggilan baru: Bokep.

Kata bokep yang kalian pasti tahu artinya (tak perlu berlagak polos, kawan) paling sering diasosiasikan dengan film dan foto pornogragis. Julukan ini semakin sah menempel pada Adi sebab rumahnya adalah lokasi ia dan teman-temannya kerap nonton film biru bersama. “Dulu zamannya LaserDisc, itu sebelum era VCD. Kami sering nonton [film porno]. Anak-anak sering nongkrong di rumahku karena aku punya LaserDisc itu,” katanya.

Ardhana Pragota, pria 28 tahun asal Yogyakarta, juga “dibaptis” dengan nama panggilan baru gara-gara tongkrongannya. Di kotanya, fenomena ini disebut paraban, yaitu mekanisme internal tongkrongan untuk menamai masing-masing anggota dengan nama acak nan nyeleneh. Bisa terinspirasi dari bentuk wajah, nama binatang, perangai sehari-hari, sampai tokoh pewayangan. Dengan nada bercanda, Ardhana menyebut budaya ini dilakukan karena banyak teman-temannya yang memiliki nama terlampau bagus dan tidak sesuai dengan kelakuan dan wajahnya sehingga “perlu” diganti. Tentu menurut gerombolan di tongkrongannya.

Ia sendiri mendapat nama baru saat kelas 4 SD: Ndembik, sebuah kosakata Jawa. Nama ini dipilih tongkrongan karena saat itu Ardhana dianggap kerap menampakkan raut sedih dan lesu. Baru saat menginjak SMA, ia sadar bahwa arti sebenarnya nama itu adalah ‘muka yang amat buruk’. Sudah terlambat enam tahun untuk mengubah, nama itu keburu tenar lintas tongkrongan.

“Kelas 4 SD, kami [anak satu tongkrongan] enggak mau manggil nama asli. Ya udah, kami ganti nama masing-masing. Dengan pengetahuan diksi yang terbatas, aku menerima panggilan itu,” kata Ardhana.

Nindita Dwi juga mendapat “gelar” dari wajahnya. Saat kelas 2 SMP di Banyumas, seorang kawan yang cukup berpengaruh di sekolah tiba-tiba memanggilnya Cimeng. Katanya sih, muka Nindita dianggap mirip orang lagi ngeganja. Sebuah gagasan dan pengetahuan yang membuat kita bertanya-tanya: di lingkungan seperti apa si teman ini beredar. Juga masih misteri hingga saat ini apa visi-misi kehidupan sang kawan ini sehingga kepikiran ngasih nama-nama random ke orang lain. 

“Awalnya marah sih pasti ya. Aku punya nama bagus-bagus gitu, tapi tiba-tiba dikasih nama Cimeng. Nama itu sampai terkenal di semua temanku di sekolah. Sebel tapi enggak sampai berantem, mikirnya, ya udah buat lucu-lucuan aja. Karena enggak cuma aku, beberapa teman-temanku juga dikasih panggilan aneh-aneh,” cerita Nindita kepada VICE.

Nama aneh ini membuat Nindita lumayan terkenal di lingkungan sekolah. Bahkan, beberapa sejawat sampai tak familier dengan nama asli Nindita. Kadang, cerita Nindita, ia pernah bertemu orang yang enggak begitu ia kenal, namun orang tersebut santai aja memanggilnya Cimeng. “Sedih enggak sih? Malah nama asli kita teman-teman enggak tahu. Kalau ditanya malu atau enggak dipanggil Cimeng, ya aku sih sebisa mungkin ingin cut, enggak mau melanjutkan panggilan itu.”

Nindita baru lolos dari panggilan Cimeng setelah bekerja di sebuah kementerian di Jakarta. Di tempat kerja sebelumnya, ia masih dipanggil Cimeng sebab ada teman kuliah yang bekerja di tempat sama. “Sampai kepala kantorku manggilnya Cimeng, semua orang jadi tahu dan akhirnya ikutan manggil.”

Sedikit berbeda dengan Nindita, Surya dibekali rasa cuek berlebih sehingga tak sekali pun tersinggung. Ia merasa tak pernah dirugikan atas panggilan akrab tersebut. Sifat cuek ini membuat nama Bokep sampai ke telinga orang-orang di luar tongkrongannya. Bahkan, guru sekolah dan ibu kandungnya sendiri sampai memanggilnya Bokep, sesuatu yang ia yakini bisa terjadi karena keduanya tak familier dengan istilah tersebut. “Kalau mereka tahu [artinya], ya paling aku kena gebuk.”

Bisa dibilang, nama panggilan ini malah memberikan keuntungan. Sebagai orang yang terlihat kalem dan serius, obrolan seputar asal muasal nama Bokep membuatnya cepat akrab sama orang lain. Keanehan pada nama panggilan membuatnya lebih gampang ngobrol karena biasanya orang akan langsung tertawa atau penasaran bertanya, dua hal yang membuat pertemanan semakin dekat. “Isu seksualitas kan lumayan digemari, jadi orang langsung nyantol.”

Sementara Ardhana menyebut nama Ndembik memberi efek psikologis yang menguntungkannya kala tawuran. Ia berasumsi bahwa namanya yang punya arti sangat buruk itu membuat sekolah musuh gentar karena membayangkan pemilik nama adalah sosok paling seram dan brutal. Efek ini diklaim berguna dalam menjaga marwah sekolah karena Ardhana ingat di satu pertemuannya dengan sekolah “musuh”, ia dan teman-temannya terpingkal-pingkal setelah mengetahui perwakilan sekolah “musuh” mempunyai paraban Min Ho.

Dari contoh tersebut, unsur ceng-cengan menjurus perundungan dalam paraban terlihat cukup kental. Ardhana mengaku memiliki seorang teman yang mendapatkan panggilan Hensam, plesetan dari handsome, karena mukanya yang dianggap sangat jelek. Selain itu ada pula Enggak Roso (‘enggak kuat’), Obeng, Kucing, dan Debok (batang pisang).

Keluarga Ardhana memaklumi pergantian nama tersebut. Ia juga sering melihat bapaknya sendiri bertemu kawan lama dan saling menyapa dengan nama “jalanan” masing-masing. Enggak cuma bapak dan ibu, bahkan adik kandung dan sepupu-sepupunya kini memanggil Ndembik.

Di spektrum yang berbeda, Nindita menceritakan bapak-ibunya prihatin saat mengetahui nama sang anak telah berubah. Di mata keluarga, Cimeng mengandung kesan negatif. “Ibuku sempat komentar, ‘Kok kamu mau sih dipanggil begitu?’, akhirnya setelah itu kalau temenku main ke rumah mereka akan manggil nama asliku. Enggak cuma ibuku aja yang berkomentar, teman-teman di kantorku juga komentar sama.”

Surya kini memiliki anak berusia 1,5 tahun. Di beberapa kesempatan, ia mendapati istrinya beberapa kali memanggil Surya di depan anaknya sebagai “Ayah Bokep”. Saat kami tanyai kemungkinan perundungan kepada sang anak apabila kelak teman-temannya mengetahui nama panggilan ayahnya adalah Bokep, ia juga enggak ambil pusing. “Menurutku tidak akan sampai sana [ketahuan temen-temennya]. Harusnya berhenti di lingkaranku. Tapi kalau misalkan iya, ya udah terima aja. Apa yang bisa kita lakukan? Ya enggak ada. Aku suruh cuekin aja sampai dia merasa terbiasa.”

Kini, Ardhana mulai memakai nama “Gota” dalam memperkenalkan diri sejak berkuliah dan kini dunia kerja. Katanya, biarlah Gota menjadi persona seorang Ardhana di dunia profesional, sementara Ndembik mewakili masa-masa rusuh dan tawuran saat SMP-SMA. Nama Ndembik diperlakukan Gota sebagai bagian dari Kota Jogja, merayakan masa lalu serta nostalgia menyenangkan saat harus kabur dari pekerjaan. “Aku enggak bisa menanggalkan sisiku yang ndembik. Itu masa lalu kami [pelajar Jogja], tetap kami rayain.”

Keputusan yang masuk akal mengingat ia mencurigai nama Ndembik sebagai biang keladi macetnya dunia percintaannya semasa sekolah. Saat mulai mengenalkan nama sebagai Gota saat kuliah, ia mengaku kisah romantisnya berputar 180 derajat. “Bahkan sampai sekarang, kalau ada orang Jogja foto selfie gitu, kalau hasilnya jelek mereka suka bilang, ‘Ah ulangi, mukaku ndembik banget.’ Nah, berarti kan ndembik itu ekspresi yang sangat dihindari perempuan. Aku sebagai kaum hetero merasa dirugikan.”

Pesan terakhir untuk para ibu dan ayah muda yang baru memiliki anak: kalian boleh menyematkan nama-nama indah bermakna dalam kepada anak. Namun, kayaknya harus tetap persiapan mental deh kalau tiba-tiba tahu bahwa anak Anda malah dipanggil Batang Pisang oleh kawan-kawannya.



Source link

MK Sebut UU Cipta Kerja Inkonstitusional, Ini Dampaknya Menurut Pakar


Judicial Review Mahkamah Konstitusi Putuskan UU Cipta Kerja Inkonstitusional Wajib Direvisi dalam 2 tahun

Unjuk rasa di Banda Aceh menuntut pembatalan UU Cipta Kerja pada 17 November 2021. Foto oleh CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman membacakan putusan lembaganya atas judicial review UU 11/2020 tentang Cipta Kerja pada 25 November 2021. Permohonan uji formil UU oleh enam penggugat tersebut berbuah vonis, yang menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional karena cacat formil, alias dianggap melanggar aturan dalam proses pembuatannya.

Walau begitu, aturan hukum pro pengusaha ini tak serta merta batal. MK memberi tenggat dua tahun kepada DPR dan pemerintah untuk merevisi UU Cipta Kerja. Selama itu, UU berlaku secara bersyarat (a quo), tidak boleh dijadikan dasar hukum untuk kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas, serta tak boleh menjadi dasar pembuatan aturan turunan yang bersifat pelaksana. Apabila tenggat revisi tidak terpenuhi, UU Cipta Kerja akan dinyatakan batal secara permanen.

“Menyatakan pembentukan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat secara bersyarat, sepanjang tidak dimaknai tidak dilakukan perbaikan dalam waktu dua tahun sejak putusan ini diucapkan,” demikian kutipan putusan yang dibacakan Hakim Ketua Anwar Usman, seperti dilansir Kompas. Rekaman sidang bisa ditonton di akun YouTube MK, sedangkan amar putusan lengkap bisa dibaca di sini.

“Menyatakan apabila dalam tenggang waktu dua tahun pembentuk Undang-Undang tidak dapat menyelesaikan perbaikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja maka Undang-Undang atau pasal-pasal atau materi muatan Undang-Undang yang telah dicabut atau diubah oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja harus dinyatakan berlaku kembali,” tambah Anwar.

Dalam diktum putusan, majelis hakim menguraikan alasan vonis inkonstitusional tersebut. Pertama, karena metode penggabungan hukum atau omnibus law membuat tidak jelas apakah UU Cipta Kerja merupakan UU baru (UU perubahan) ataukah revisi UU sebelumnya. Sebab, walau cara pembentukannya seperti UU baru, secara isi beleid tersebut merupakan revisi atas UU lama.

Kedua, metode omnibus law dalam UU Cipta Kerja tidak ada dasar hukumnya. Ketiga, ada perubahan substansial materi UU yang dilakukan setelah UU disahkan presiden dan DPR. Keempat, penyusunan UU Cipta Kerja tidak memenuhi asas keterbukaan karena tidak transparan pada publik.

Putusan ini diraih dengan suara tidak bulat. Dari 9 hakim MK, 5 orang setuju UU Cipta Kerja inkonstitusional, 4 hakim lainnya menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion). Lalu di antara empat hakim ini pun, ada perbedaan pendapat pula. Mereka adalah Arief Hidayat dan Anwar Usman, serta Manahan M.P. Sitompul dan Daniel Yusmic P. Foekh. 

Dari 4 hakim yang berbeda pendapat tersebut, Hakim Arief Hidayat dan Hakim Anwar Usman hanya mempermasalahkan proses penyusunan UU Cipta Kerja yang serampangan. Sedangkan Hakim Manahan Sitompul dan Hakim Daniel Foekh menyatakan tak ada masalah dalam UU ini.

Dalam konferensi persnya beberapa jam setelah putusan dibacakan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah bakal mematuhi MK. “Pemerintah akan segera menindaklanjuti putusan MK yang dimaksud melalui penyiapan perbaikan undang-undang dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya arahan Mahkamah Konstitusi lainnya sebagaimana dimaksud dalam putusan MK tersebut,” ujarnya, dikutip Suara.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal langsung mendesak kepala daerah agar upah minimum 2022 yang ditetapkan menggunakan perhitungan ala UU Cipta Kerja segera dibatalkan.

“KSPI meminta kepada seluruh gubernur di Indonesia, bupati, wali kota di seluruh Indonesia dalam menetapkan upah minimum baik UMP atau UMK tahun 2022 harus kembali mengacu kepada UU 13/2003 dan PP 78/2015,” ujar Said.

Ahli hukum dan dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Bivitri Susanti mengatakan kepada VICE, meski putusan MK ini patut diapresiasi, tapi hasilnya bukan sebuah kemenangan bagi penggugat. Utamanya kelompok serikat buruh maupun pekerja secara luas di Tanah Air yang hak-haknya dikurangi dalam UU Cipta Kerja demi menggenjot investasi.

“Meski dikabulkan, sebenarnya ini bukan sebuah ‘kemenangan’ bagi pemohon karena UU Cipta Kerja tetap berlaku sampai dua tahun lagi. Yang masih bisa sedikit melegakan adalah karena tidak boleh lagi ada peraturan pelaksana [PP dan Perpres yang diperintahkan secara eksplisit untuk dibuat] dalam dua tahun ini. Tetapi ini pun berarti, peraturan pelaksana yang sudah ada dan penuh kritik, tetap berlaku,” kata Bivitri kepada VICE.

Di media sosial, judicial review UU Cipta Kerja direspons dengan kebingungan. Tidak jelas apa yang MK minta diperbaiki dari UU ini selama dua tahun ke depan. Pasalnya, vonis inkonstitusional berasal dari pembuktian bahwa UU Cipta Kerja cacat formil, yang mana adalah sebuah proses yang sudah berlalu.

Menurut Bivitri, kebingungan publik disebabkan pertimbangan MK bukan cuma pada aspek hukum, tapi juga politis. “Bila melihat rekam jejak MK, kita juga bisa melihat bagaimana MK selalu melakukan pertimbangan politik, tidak hanya hukum. Karena itulah, jalan keluarnya adalah ‘conditionally unconstitutional’ atau putusan inkonstitusional bersyarat selama dua tahun,” kata Bivitri.

Ia mengatakan pula, “Bila dilihat dari amar putusan dan adanya 4 dari 9 hakim yang berpendapat berbeda, putusan ini memang seperti ‘jalan tengah’. Dan jalan tengah ini sesungguhnya menimbulkan kebingungan karena putusan ini mengatakan bahwa sebuah proses legislasi inkonstitusional, artinya sebenarnya sebuah produk yang dihasilkan dari proses yang inkonstitusional, ini juga inkonstitusional, sehingga tidak berlaku. Tetapi putusan ini membedakan antara proses dan hasil sehingga yang dinyatakan inkonstitusional hanya prosesnya, tetapi UU-nya tetap konstitusional dan berlaku.”



Source link

Kisah Satu Keluarga Asal Jakarta Kompak Jadi Copet, Beraksi Sampai Luar Negeri


Satu Keluarga Asal Jakarta Tertangkap Mencopet di Acara WSBK di Mandalika

Ilustrasi pencopet via Getty Images

DC, LO, dan DA terbang dari Jakarta ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Jumat (19/11). Ketiganya terlihat selayaknya penonton biasa sebab memegang tiket resmi kompetisi balap World Superbike Championship (WSBK) yang akan dihelat di Sirkuit Mandalika.

Kenyataannya, ayah-ibu-anak itu datang bukan untuk menyaksikan apa yang ada di lintasan balap, melainkan beraksi di tribun penonton. Bersama lima tetangganya, mereka berkomplot mengincar pengunjung lain yang lengah untuk kemudian dicuri barang berharganya.

Meski sudah menyusun rencana sematang mungkin, satu pelaku tertangkap di Gate 3 Sirkuit. DC, LO, dan DA langsung kabur ke Pelabuhan Lembar untuk bersembunyi. Anggota komplotan yang tertangkap mengaku pada aparat bahwa selain dirinya, ada tujuh orang lain yang bekerja sama nyopet selama WSBK. Polisi bergerak cepat, ayah-ibu-anak tertangkap di Lembar. Empat yang lain diringkus di kapal penyeberangan saat hendak melarikan diri menuju Bali. 

“Sejumlah polisi tidak berseragam yang kami tugaskan di Sirkuit Mandalika saat WSBK kemarin berhasil meringkus komplotan pencurian asal Jakarta,” kata Kabid Humas Polda NTB Artanto, Rabu (24/11), dilansir Republika. “Mereka masuk sebagai penonton dengan tiket resmi. Tetapi dari interogasi, mereka murni datang untuk melakukan pencurian.”

Macam serial Money Heist, para pencopet ini berbagi peran. Ada yang mengeksekusi, mengoper-oper barang curian, sampai menjualnya. Target utama komplotan adalah pengunjung perempuan dengan tas yang terbuka. DA, sang anak, dibebani tugas mengalihkan perhatian korban. Aparat menemukan empat buah ponsel sebagai barang bukti.

Pemeriksaan lanjutan menghasilkan informasi penting. Komplotan mengaku sebagai pencuri spesialis event-event besar. Mereka telah melakukan aksinya di Batam, Malaysia, dan Singapura dengan total sampai 50-an kali. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTB Hari Brata menyebut empat pelaku, termasuk tiga orang yang satu keluarga, dijerat KUHP Pasal 363 tentang pencurian dan diancam lima tahun penjara. Sementara, empat pelaku lain masih dalam proses pendalaman kasus.

Sebulan menuju gelaran WSBK, Hari mengklaim telah mengungkap 189 kasus pencurian dengan 267 tersangka. Pengamanan ini dilakukan sejak 22 Oktober untuk menciptakan kondisi penonton agar merasa aman dan nyaman. Semoga saja kegiatan aktif polisi menangkap para pencuri enggak cuma terjadi karena ada hajatan negara, tapi ya setiap hari seperti yang sudah seharusnya.

Kasus kriminal yang melibatkan satu keluarga sering terjadi di berbagai wilayah. Pada Februari kemarin, polisi menangkap empat pencopet di Surabaya, tiga di antaranya satu keluarga. RD (49) yang mengalami kesulitan keuangan mengajak AR (46) dan OR (26), istri dan anaknya, untuk membantu. “Sebetulnya keluarga enggak tahu. Saya yang ngajak, dia enggak tahu kerjanya apa. Saya paksa terus mereka ikut. Baru nyampe Tugu Pahlawan, saya cerita ke anak istri saya,” kata RD dilansir Detik. Kasus tertangkap ini adalah kali keempat RD dan keluarganya beraksi.

Tarik sedikit ke September 2020, giliran Polda Metro Jaya menangkap tujuh tersangka pencurian motor, lima orang di antaranya merupakan satu keluarga. Dalam sebulan, komplotan mengaku bisa sampai sembilan kali mencuri. Mereka biasanya mencari target parkiran ruko, minimarket, dan kos-kosan yang sepi. Ajaibnya, pelaku mengaku hanya butuh waktu satu menit saja untuk menggondol sepeda motor. Sungguh terlatih.



Source link