Keluarga Gucci Menyebut Film ‘House of Gucci’ Penghinaan Bagi Reputasi Mereka


lady gaga dan adam driver dalam house of gucci

lady gaga dan adam driver dalam cuplikan adegan film House of Gucci

House of Gucci tak hanya bertabur bintang, tetapi juga dibalut kontroversi. Film bergenre kriminal thriller besutan sutradara Ridley Scott mengungkap perseteruan keluarga di balik salah satu rumah mode terbesar di dunia. Namun, ahli waris Gucci tak terima dengan penggambaran keluarganya.

Dilansir Variety awal pekan lalu, keluarga Gucci merasa terhina oleh citra buruk yang ditampilkan dalam film. Mereka juga menyayangkan kenyataan jarang dimintai masukan selama proses penggarapan. Mereka menganggap filmnya “tidak akurat” dalam memaparkan “kisah nyata keluarga”.

Menurut pernyataan resmi yang ditulis dalam bahasa Italia, “Tim produksi film tidak berkonsultasi dengan ahli waris sebelum menggambarkan Aldo Gucci—yang memimpin perusahaan selama 30 tahun—dan anggota keluarga Gucci sebagai preman, bebal dan tidak sensitif dengan kondisi sekitar, memasukkan protagonis, peristiwa dan perilaku yang tak sesuai dengan mereka.”

“Ini suatu penghinaan atas apa yang telah dibangun merek hingga sekarang,” lanjutnya. Mereka kemudian mempermasalahkan karakter Patrizia Reggiani yang diperankan Lady Gaga. Di dunia nyata, Patrizia dihukum karena menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi suaminya Maurizio Gucci. Keluarga Gucci geram film ini menggambarkannya sebagai “korban…yang susah payah bertahan dalam budaya perusahaan yang maskulin dan macho”, serta pernyataan para pemain film yang menekankan sudut pandang tersebut.

“Selama 70 tahun kiprahnya sebagai bisnis keluarga, Gucci perusahaan inklusif,” tandas anggota keluarga dalam pernyataan, lalu menyoroti para perempuan yang menjadi kepala departemen pada 1980-an (sesuai periode waktu dalam film). “Keluarga Gucci amat menghormati karya para leluhur, yang kenangannya tak pantas dirusak film yang tidak tepat menggambarkan para protagonisnya.”

Artikel ini pertama kali tayang di i-D



Source link

Video Mr. Beast Jiplak ‘Squid Game’ Ciptakan Rekor, Ada Problem di Sistem YouTube



YouTuber tenar Mr. Beast mencatatkan rekor pribadi, ketika satu videonya berhasil meraup lebih dari 100 juta views kurang dari satu minggu penayangan. Video tersebut berisi upaya Mr. Beast mereka ulang berbagai permainan dalam serial Netflix Squid Game, melibatkan ratusan peserta.

Para peserta itu bersaing mendapatkan hadiah utama US$456 ribu, jika berhasil menjadi yang satu-satunya tersisa dalam kompetisi. Seperti di cerita Squid Game, tayangan YouTube tersebut juga mengeliminasi tiap pesertanya bila gagal melakukan beragam permainan anak. Tentu saja, karena ini YouTube, tidak ada peserta yang dibunuh oleh panitia seperti di serialnya.

Mr. Beast sangat bahagia ketika “kontennya” berhasil ditonton puluhan juta orang di hari perdana penayangan. Mantan petinggi YouTube juga memberinya ucapan selamat di Twitter, karena video tersebut menandai makin populernya “para kreator konten” di ekosistem hiburan digital.

Pertanyaannya, benarkah rekor-rekor yang dicatatkan Mr Beast sebagai hal yang positif bagi industri kreatif?

Kritik dari netizen di media sosial segera bermunculan. Konten Mr Beast dianggap sekadar “nebeng” popularitas serial TV dari Korsel yang perlu waktu panjang untuk dibuat. Tragisnya, dengan effort yang jauh lebih ringan, konten Mr Beast bisa mendapat views tak kalah besar.

Sedikit informasi, Squid Game butuh lebih dari 10 tahun untuk akhirnya bisa diproduksi dan tayang di Netflix. Sang penulis skenario sekaligus sutradaranya, Hwang Dong-hyuk, mengaku naskah Squid Game sempat ditolak berbagai petinggi stasiun televisi Korsel.

Saat diwawancarai the Korean Times, Dong-hyuk mengaku tidak sadar kalau ide cerita orang miskin ikut permainan berbahaya demi mendapat uang banyak akan relevan dengan situasi dunia 12 tahun dari momen awal dia menuliskannya. “Jujur saya sendiri baru menyadari kenapa penonton di berbagai negara bisa merasa simpati pada tokoh-tokoh di Squid Game, sepertinya karena dunia sekarang mendorong orang makin berani bertaruh, termasuk dalam praktik mata uang kripto, properti, atau saham,” ujarnya.

Membaca pernyataan sang kreator Squid Games, kita bisa melihat bahwa cerita di serialnya secara tersirat mengkritik kapitalisme masa kini. Namun berbagai elemen sosial itu hilang dalam konten Mr Beast. Sang YouTuber, secara ironis, justru berperan sebagai kaum tajir yang mengajak orang putus asa untuk mengikuti permainannya demi segepok uang.

Mr. Beast membuat konten tiruan Squid Games itu dalam tujuh minggu, merekonstruksi ulang setting dan aturan permainan, sembari mengajak 456 orang untuk ikut serta memperebutkan hadiah utama US$456.000.

Sejujurnya, lonten yang lahir dari jiplakan atau parodi bukan hal baru di YouTube. Akan tetapi, menyedihkan sekali melihat esensi sebuah karya (dalam hal ini pesan utama dari serial TV yang kritis terhadap kondisi dunia), justru hilang dalam produk jiplakan yang populer. Lomba-lomba ala Squid Game yang dibuat Mr Beast sepenuhnya hiburan. Tidak ada lagi drama, lebih-lebih kritik sosial. Ketika Squid Game menyorot betapa ketimpangan sosial ini merugikan orang miskin, konten Mr. Beast secara tidak langsung merayakannya.

Kita tidak perlu sampai membahas etis tidaknya konten jiplakan acara populer macam Mr Beast marak di YouTube. Jawabannya sudah cukup jelas. Akan tetapi, melihat video macam itu meraup banyak views, boleh dibilang ada yang salah dari sistem YouTube, serta algoritma yang mereka rancang untuk menarik perhatian penonton.

Konten-konten di YouTube diklaim memberi ruang bagi “konten kreator”, namun pertanyaanya, seberapa besar orisinalitas ide dirayakan di algoritma platform tersebut? YouTube merupakan salah satu platform yang dipenuhi oleh konten jiplakan, yang secara sadar “nebeng” popularitas acara/film/brand tertentu. Berbagai konten “reaction” atau “ringkasan cerita film & serial” (yang seringkali marak ditonton), pastinya membuat kita bertanya-tanya, “konten macam ini effort-nya di mana?”

Kalau memang konten macam itu sukses, apakah berarti YouTube tidak peduli pada kebaruan ide? Bila demikian, buat apa juga kita mikirin konsep konten, kalau memang platformnya mengizinkan kita bikin tayangan-tayangan tak bermutu, asal views-nya jutaan?

Keresahan macam ini sudah sering diutarakan oleh para YouTuber yang berusaha membuat konten berkualitas. Mereka capek-capek bikin konten berdurasi 10 menit, dengan riset panjang dan butuh lebih dari seminggu produksi, tapi pada akhirnya kalah dari “kreator” lain yang cukup bikin reaksi nonton video yang sedang populer.

Video reka ulang Squid Game oleh Mr. Beast, sekalipun butuh modal besar untuk dibuat, esensinya tidak jauh beda dari konten jiplakan lain yang bertebaran di YouTube. Bahkan di tengah-tengah video tersebut, Mr. Beast memuat pariwara untuk game mobile Brawl Stars. Artinya, sang YouTuber secara tidak langsung meraup untung dengan memanfaatkan kerja keras kreator lain, dalam hal ini Hwang Dong-hyuk.

Jika video macam yang dibuat Mr. Beast adalah contoh kesuksesan bagi konten kreator, maka itu tanda bahaya bagi industri kreatif secara keseluruhan.



Source link

Beginilah Rasanya Sampai Dewasa Punya Nama Panggilan Nyeleneh di Tongkrongan


Budaya memberi nama panggilan nyeleneh di kalangan remaja Indonesia

Foto ilustrasi pergaulan remaja di Indonesia oleh Hariandi Hafid/SOPA via Getty Images

Kita pasti punya setidaknya satu kawan di sekolah yang insting berbisnisnya moncer sejak kecil. Bentuknya macam-macam. Ada yang menjual nasi goreng bikinan emak ke teman sekelas, jadi makelar kunci jawaban ujian akhir nasional, atau sekadar berbaik hati menawarkan uang cepat kepada kawan terdekat lewat mekanisme multi-level marketing berhadiah kapal pesiar. Terlepas dari pandangan orang terhadap kegiatan ekonomi yang mereka jalani, rasa segan kita biasanya muncul melihat kegigihan kawan dalam memutar roda ekonomi negara di usia belia.

Rentang tahun 1994-1995, Surya Adi menjadi bagian dari kelompok “pebisnis cilik” ini. Saat itu, ia tengah mengecap pendidikan di salah satu SMP di kawasan Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Di sebelah pasar itu, sebuah SD berdiri sejajar. Di sanalah Adi melihat target pasar dari produk yang ia jual.

Di sana, Adi berdagang kartu hologram porno.

“Jualan kartu-kartu hologram [bergambar] mbak-mbak yang kalau [kartunya] digerakin jadi telanjang. Aku lupa berapa harga jualnya. Supplier-ku tukang es jeruk keliling di daerah Taman Puring. Aku cuma iseng-iseng jualin, enggak tahu atas dasar apa karena aku juga enggak butuh duit pas itu,” kata Adi kepada VICE, mengenang masa jahiliyah itu.

Karena emang enggak begitu ia tutup-tutupi, teman-teman tongkrongannya tahu bisnis ini. Sejak saat itu, ia dapat nama panggilan baru: Bokep.

Kata bokep yang kalian pasti tahu artinya (tak perlu berlagak polos, kawan) paling sering diasosiasikan dengan film dan foto pornogragis. Julukan ini semakin sah menempel pada Adi sebab rumahnya adalah lokasi ia dan teman-temannya kerap nonton film biru bersama. “Dulu zamannya LaserDisc, itu sebelum era VCD. Kami sering nonton [film porno]. Anak-anak sering nongkrong di rumahku karena aku punya LaserDisc itu,” katanya.

Ardhana Pragota, pria 28 tahun asal Yogyakarta, juga “dibaptis” dengan nama panggilan baru gara-gara tongkrongannya. Di kotanya, fenomena ini disebut paraban, yaitu mekanisme internal tongkrongan untuk menamai masing-masing anggota dengan nama acak nan nyeleneh. Bisa terinspirasi dari bentuk wajah, nama binatang, perangai sehari-hari, sampai tokoh pewayangan. Dengan nada bercanda, Ardhana menyebut budaya ini dilakukan karena banyak teman-temannya yang memiliki nama terlampau bagus dan tidak sesuai dengan kelakuan dan wajahnya sehingga “perlu” diganti. Tentu menurut gerombolan di tongkrongannya.

Ia sendiri mendapat nama baru saat kelas 4 SD: Ndembik, sebuah kosakata Jawa. Nama ini dipilih tongkrongan karena saat itu Ardhana dianggap kerap menampakkan raut sedih dan lesu. Baru saat menginjak SMA, ia sadar bahwa arti sebenarnya nama itu adalah ‘muka yang amat buruk’. Sudah terlambat enam tahun untuk mengubah, nama itu keburu tenar lintas tongkrongan.

“Kelas 4 SD, kami [anak satu tongkrongan] enggak mau manggil nama asli. Ya udah, kami ganti nama masing-masing. Dengan pengetahuan diksi yang terbatas, aku menerima panggilan itu,” kata Ardhana.

Nindita Dwi juga mendapat “gelar” dari wajahnya. Saat kelas 2 SMP di Banyumas, seorang kawan yang cukup berpengaruh di sekolah tiba-tiba memanggilnya Cimeng. Katanya sih, muka Nindita dianggap mirip orang lagi ngeganja. Sebuah gagasan dan pengetahuan yang membuat kita bertanya-tanya: di lingkungan seperti apa si teman ini beredar. Juga masih misteri hingga saat ini apa visi-misi kehidupan sang kawan ini sehingga kepikiran ngasih nama-nama random ke orang lain. 

“Awalnya marah sih pasti ya. Aku punya nama bagus-bagus gitu, tapi tiba-tiba dikasih nama Cimeng. Nama itu sampai terkenal di semua temanku di sekolah. Sebel tapi enggak sampai berantem, mikirnya, ya udah buat lucu-lucuan aja. Karena enggak cuma aku, beberapa teman-temanku juga dikasih panggilan aneh-aneh,” cerita Nindita kepada VICE.

Nama aneh ini membuat Nindita lumayan terkenal di lingkungan sekolah. Bahkan, beberapa sejawat sampai tak familier dengan nama asli Nindita. Kadang, cerita Nindita, ia pernah bertemu orang yang enggak begitu ia kenal, namun orang tersebut santai aja memanggilnya Cimeng. “Sedih enggak sih? Malah nama asli kita teman-teman enggak tahu. Kalau ditanya malu atau enggak dipanggil Cimeng, ya aku sih sebisa mungkin ingin cut, enggak mau melanjutkan panggilan itu.”

Nindita baru lolos dari panggilan Cimeng setelah bekerja di sebuah kementerian di Jakarta. Di tempat kerja sebelumnya, ia masih dipanggil Cimeng sebab ada teman kuliah yang bekerja di tempat sama. “Sampai kepala kantorku manggilnya Cimeng, semua orang jadi tahu dan akhirnya ikutan manggil.”

Sedikit berbeda dengan Nindita, Surya dibekali rasa cuek berlebih sehingga tak sekali pun tersinggung. Ia merasa tak pernah dirugikan atas panggilan akrab tersebut. Sifat cuek ini membuat nama Bokep sampai ke telinga orang-orang di luar tongkrongannya. Bahkan, guru sekolah dan ibu kandungnya sendiri sampai memanggilnya Bokep, sesuatu yang ia yakini bisa terjadi karena keduanya tak familier dengan istilah tersebut. “Kalau mereka tahu [artinya], ya paling aku kena gebuk.”

Bisa dibilang, nama panggilan ini malah memberikan keuntungan. Sebagai orang yang terlihat kalem dan serius, obrolan seputar asal muasal nama Bokep membuatnya cepat akrab sama orang lain. Keanehan pada nama panggilan membuatnya lebih gampang ngobrol karena biasanya orang akan langsung tertawa atau penasaran bertanya, dua hal yang membuat pertemanan semakin dekat. “Isu seksualitas kan lumayan digemari, jadi orang langsung nyantol.”

Sementara Ardhana menyebut nama Ndembik memberi efek psikologis yang menguntungkannya kala tawuran. Ia berasumsi bahwa namanya yang punya arti sangat buruk itu membuat sekolah musuh gentar karena membayangkan pemilik nama adalah sosok paling seram dan brutal. Efek ini diklaim berguna dalam menjaga marwah sekolah karena Ardhana ingat di satu pertemuannya dengan sekolah “musuh”, ia dan teman-temannya terpingkal-pingkal setelah mengetahui perwakilan sekolah “musuh” mempunyai paraban Min Ho.

Dari contoh tersebut, unsur ceng-cengan menjurus perundungan dalam paraban terlihat cukup kental. Ardhana mengaku memiliki seorang teman yang mendapatkan panggilan Hensam, plesetan dari handsome, karena mukanya yang dianggap sangat jelek. Selain itu ada pula Enggak Roso (‘enggak kuat’), Obeng, Kucing, dan Debok (batang pisang).

Keluarga Ardhana memaklumi pergantian nama tersebut. Ia juga sering melihat bapaknya sendiri bertemu kawan lama dan saling menyapa dengan nama “jalanan” masing-masing. Enggak cuma bapak dan ibu, bahkan adik kandung dan sepupu-sepupunya kini memanggil Ndembik.

Di spektrum yang berbeda, Nindita menceritakan bapak-ibunya prihatin saat mengetahui nama sang anak telah berubah. Di mata keluarga, Cimeng mengandung kesan negatif. “Ibuku sempat komentar, ‘Kok kamu mau sih dipanggil begitu?’, akhirnya setelah itu kalau temenku main ke rumah mereka akan manggil nama asliku. Enggak cuma ibuku aja yang berkomentar, teman-teman di kantorku juga komentar sama.”

Surya kini memiliki anak berusia 1,5 tahun. Di beberapa kesempatan, ia mendapati istrinya beberapa kali memanggil Surya di depan anaknya sebagai “Ayah Bokep”. Saat kami tanyai kemungkinan perundungan kepada sang anak apabila kelak teman-temannya mengetahui nama panggilan ayahnya adalah Bokep, ia juga enggak ambil pusing. “Menurutku tidak akan sampai sana [ketahuan temen-temennya]. Harusnya berhenti di lingkaranku. Tapi kalau misalkan iya, ya udah terima aja. Apa yang bisa kita lakukan? Ya enggak ada. Aku suruh cuekin aja sampai dia merasa terbiasa.”

Kini, Ardhana mulai memakai nama “Gota” dalam memperkenalkan diri sejak berkuliah dan kini dunia kerja. Katanya, biarlah Gota menjadi persona seorang Ardhana di dunia profesional, sementara Ndembik mewakili masa-masa rusuh dan tawuran saat SMP-SMA. Nama Ndembik diperlakukan Gota sebagai bagian dari Kota Jogja, merayakan masa lalu serta nostalgia menyenangkan saat harus kabur dari pekerjaan. “Aku enggak bisa menanggalkan sisiku yang ndembik. Itu masa lalu kami [pelajar Jogja], tetap kami rayain.”

Keputusan yang masuk akal mengingat ia mencurigai nama Ndembik sebagai biang keladi macetnya dunia percintaannya semasa sekolah. Saat mulai mengenalkan nama sebagai Gota saat kuliah, ia mengaku kisah romantisnya berputar 180 derajat. “Bahkan sampai sekarang, kalau ada orang Jogja foto selfie gitu, kalau hasilnya jelek mereka suka bilang, ‘Ah ulangi, mukaku ndembik banget.’ Nah, berarti kan ndembik itu ekspresi yang sangat dihindari perempuan. Aku sebagai kaum hetero merasa dirugikan.”

Pesan terakhir untuk para ibu dan ayah muda yang baru memiliki anak: kalian boleh menyematkan nama-nama indah bermakna dalam kepada anak. Namun, kayaknya harus tetap persiapan mental deh kalau tiba-tiba tahu bahwa anak Anda malah dipanggil Batang Pisang oleh kawan-kawannya.



Source link