Alasan Emas Masih Layak Dijadikan Pilihan Investasi

Share This Post

Share on facebook
Share on twitter
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp



Jakarta, CNN Indonesia

Emas sebagai instrumen investasi tradisional masih layak dilirik hingga saat ini walau pilihan untuk mengembangbiakkan uang di zaman kini makin beragam dan mudah.

Maklum, emas memang masih menjadi aset aman yang kilaunya makin terang saat ekonomi tak menentu, termasuk akibat pandemi covid-19 yang melanda sejak 2020 lalu. Pasalnya, emas punya keunggulan menjadi sarana lindung nilai sebagai instrumen safe haven.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyebut emas sebagai instrumen tahan banting terhadap krisis membuktikan fitur unggulannya selama pandemi. Ia mencatat harga emas naik 21 persen menjadi Rp874 ribu per gram, jika dibandingkan dengan harga emas sebelum dunia dilanda pandemi covid-19, yakni Rp721.535 per gram.

“Banyak pertanyaan, apakah sekarang ini saat yang tepat untuk membeli emas? Saya percaya saat ini adalah waktu yang tepat membeli emas,” katanya pada webinar daring Treasury, Kamis (13/1).

Ia menjabarkan berbagai penopang harga emas secara fundamental dan teknikal. Pertama, faktor lonjakan inflasi dunia. Saat inflasi naik tinggi, investor beralih ke instrumen emas untuk melindungi nilai hartanya.

Kemudian, kemungkinan tapering off The Fed yang dikabarkan bakal dilakukan dalam tahun ini. Kebijakan bank sentral AS ini termasuk menaikkan suku bunga bank dan mengurangi pembelian aset berharga negara.

“Dulunya safe haven dolar (AS) tapi sekarang banyak yang mengurangi cadangan dolar pindah ke emas, itu salah satu faktor fundamental yang meningkatkan harga emas,” tutur dia.

[Gambas:Video CNN]

Dia melanjutkan faktor fundamental lainnya adalah tak ditemukannya tambang emas skala besar dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Karena itu, ia menilai dari sisi penawaran (supply) belum ada indikasi bakal terjadi oversupply emas di pasar sehingga harganya masih akan terjaga.

Mengenai kapan waktu yang tepat mengoleksi emas, Bhima menyebut investor bisa masuk ke pasar emas saat The Fed mulai menaikkan suku bunga acuan bank yang diperkirakan bakal berlangsung 2-3 kali di tahun ini.

“Jadi kalau ada yang nyinyir melihat ini emas kurang bagus di awal 2022 dan lepas-lepasin aja, salah, ini saya kira waktu yang cukup bagus karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sisi moneter,” kata dia.

Untuk outlook tahun ini, Bhima memperkirakan harga emas masih akan naik karena selain masih dirundung pandemi, beban ekonomi dunia pun makin berat dan kompleks. Mulai dari konflik geopolitik, stabilitas ekonomi yang rapuh, fluktuasi nilai komoditas, hingga konsumsi rumah tangga yang masih tertarih.

“Ini artinya orang masih cari safe haven,” imbuhnya.

Kendati begitu, ia mengingatkan untuk tak sekaligus menginvestasikan tabungan di emas saja, tapi diversifikasi portofolio investasi Anda. Ia menyarankan simpan dana di instrumen emas sekitar 25 persen-30 persen dari total tabungan.

(wel/agt)






Source link

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore